My Life Framing

.::empowering readers with my life inspiration::.

ketika ‘ku malu pada hari itu

Ya Rabb, apa arti desiran ini?

Halus tapi sangat dahsyat menggetarkan syaraf inderawi

Aku malu, tertunduk dan tersipu

Entah, aku tak berani menatap

Aku pelan-pelan berucap

Dan, aku akan bersabar,

Menghindari yang subhat, meyakini yang halal

Jika malu adalah sebagian dari iman

Aku memilki sebagian iman kala itu

Dan kuberdoa selalu,

sebab dalam inginku kau melengkapinya sehingga yang sebagian menjadi utuh

yang menyempurnakan separuh dari agamaku, agamamu. 

December 17, 2009 Posted by | poem, romance, spiritual call | Leave a Comment

Limbung

Limbung dalam impian

Linglung karena harapan

Badai godaan tertahan

Tsunami menenggelamkan siang

Malam-malam dalam genggaman

Lampu hati tak cukup menerangi

Tangisan kekecewaan di pagi hari

Meneriakkan kegetiran alam

Diri yang mengharapkan bulan

Di sore yang benderang

Tak akan terkejar

Kemujuran dalam sekam

Terus berlari menjauhi

Kebahagiaan bagi mereka yang tak merugi

December 12, 2009 Posted by | poem, self-contemplation, spiritual call | Leave a Comment

November telah berjalan

Hari ini, hari pertama di minggu ketiga bulan November. Waktu melaju sangat cepat dan hari senin selalu menjadi acuan dimulainya aktivitas mingguan. Hoaah. Berkali-kali aku menguap. Aku menulis ini dalam kondisi tubuh yang sangat penat. Indikatornya yakni kelesuan tubuh dan seringnya menguap. Namun jangan salah walaupun badan ini terasa lemas dan lesu namun semangat untuk belajar dan berpikir masih menyala. Bahkan saking capeknya tidak sadar sepulang dari jamaah Isya di masjid depan kos malam ini, badan ini terbaring dan tertidur pulas selama beberapa jam. Dan untunglah aku terbangun lagi. Dan lumayanlah cukup mengistirahatkan sel-sel badan yang kelelahan.

Cuaca bulan November sangat romantis. Hehe. Dalam artian hujan dan gerimis adalah fenomena yang kadang melayangkan anganku pada sesuatu. Hujan, mendung, gelap, sendu. Suasana-suasana yang melengkapi perasaan tatkala hujan datang. Yang jelas dan yang pasti hujan berpengaruh pada cucian dan tertahan or tertundanya aktivitas di luar ruangan. Di lain sisi, hujan juga bisa dinikmati dengan kehangatan yang menyamankan.

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun. Wow, demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Rugi? Aku kadang merasa rugi ketika keseimbangan hidup tidak terjaga. Perasaan rugi bisa dideteksi oleh hati nurani. Dan ada mekanisme dalam tubuh ini, yang bisa dirasakan oleh jiwa, mengirimkan sinyal-sinyal ketidakberesan. Sinyal itu tertangkap, namun memang, sulit untuk me-reverse dan me-defrag kembali struktur dalam sistem organism ini agar kembali bekerja sesuai dengan fungsinya. Dan keterbatasan diri adalah kuncinya.

Ketika ada kesadaran tentang keterbatasan diri, muncul kekuatan dari dalam jiwa yang sedikit demi sedikit menata kembali keseimbangan itu. Di hari Senin inilah aku ingin menata dan membangun kembali perasaan yang mendamaikan itu. Beberapa waktu ini aku cari, dan memang harus ada niat diri yang kuat. Serta aku terus berdoa supaya kerinduanku pada sesuatu ini dijawab dengan menghadirkan perasaan luar biasa itu. Sadar akan keterbatasan dan paham perjalanan panjang akan membutuhkan dukungan dari kekuatan yang melebihi dari yang bisa terbayangkan.

Keseimbangan dijaga dengan mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh sesuai dengan porsi dan takaran masing-masing. Mendahulukan kewajiban, tugas, dan prioritas-prioritas, serta belajar ikhlas berbagi. Harus didukung dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya dan kesabaran yang tak lelah-lelahnya. Semua dirangkai dalam konsistensi diri yang harus berperang melawan kejemuan, kemalasan, dan godaan-godaan lain yang menggiurkan.

December 7, 2009 Posted by | self-contemplation, social life, spiritual call | Leave a Comment

Grateful is Meaningful

water-drop-1168751

Pulang senantiasa memberikan oase penyegar ketika jiwa dan rohani kekeringan. Seperti biasa, banyak renungan yang disingkap, banyak wejangan yang di dengar, banyak hal sekecil apapun yang diperhatikan. Dan keluarga selalu tahu. Itulah yang aku syukuri. Mempunyai keluarga yang selalu mengingatkan. Hal kecil yang selalu aku remehkan, tindak-tanduk yang menjadi kebiasaan, namun mengabaikan tuntunan, penyakit hati yang aku pelihara tanpa sadari, dan sebagainya. Menjadi bahan evaluasi dan refleksi. Dan aku kembali bersyukur bahwa semakin ke sini keluarga merupakan kekuatan terbesarku dalam meraih mimpi.

Nikmat terbesar yang Allah berikan, yakni iman dan Islam akan semakin menjalar dalam pori-pori jiwa ketika ada konduktor keluarga. Iman yang naik turun adalah hal yang alami. Godaan di dunia sangat besar dan menggiurkan. Semua bisa dihadapi dengan hati yang melegakan dan menenangkan jika dibingkai dalam frame keagamaan yang kuat. Religi. Spiritulitas diri adalah kebutuhan. Pengobat lara hati dan kemelut kehidupan. Kekuatan itu akan semakin kokoh jika dibangun bersama. Bekerja sama saling sinergis dalam menggapai suatu visi bersama. Itu juga bagian lain dari esensi keluarga. Keluarga hendaknya saling menguatkan, dan semakin ke depan semakin mendukung dalam proses perbaikan setiap anggota keluarga.

Allah memberikan banyak sekali bonus dan hadiah selama Ramadhan ini. Itulah yang aku rasakan, kuresapi dengan segenap perasaan. Betapa besarnya nikmat yang Allah berikan. Kepadaku dan keluarga. Oleh karenanya, tak salah jika ibu selalu mengingatkan, banyak bersyukur, bersedekah, dan meningkatkan kualitas ibadah. Senada dengan itu, bapak tak lelah mengingatkan keutamaan sholat awal waktu dan menunjukkan fadhilah membaca Al Quran. Sementara dari adik, dalam geriknya aku belajar tentang ketekunan, ketekunan, dan ketekunan.

September 18, 2009 Posted by | family, futuristic, self-contemplation, spiritual call | Leave a Comment

Bunga dalam Tidurku

Tidur nyenyak dan berbunga indah. Harapan itulah yang sering ku-amini sebelum memejamkan mata. Seakan-akan menjadi doa dalam hati yang kupanjatkan sebelum tidur. Walaupun begitu, ku mencoba tak lupa dengan rutinitas-doa wajib yang telah diajarkan sejak SD (Bahkan mungkin sejak aku belajar berbicara hingga bisa berbicara) “Bismikallahu humma ahya wa bismika amuuuut” ( Dengan namama-Mu aku tidur ya Allah yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.)

Lantas, seiring bertambahnya usia, dan kebutuhan untuk meningkatkan kekuatan spiritualitas diri, banyak petuah dan nasehat yang mengajarkanku untuk banyak membaca istighfar dan surat pendek sebelum tidur. Kadang. Kalau sedang insyaf dan sadar, seringkali kupraktikan. Namun kebanyakan lalai dan tertidur tanpa sadar karena penat dengan padatnya aktivitas seharian. Sehingga memejamkan mata dan langsung terbuai dalam semaian bunga tidur adalah hal yang sangat menggiurkan.

Bunga tidur seolah menjadi teman baikku. Bunga tidur adalah impianku. Dan memang mimpi itulah yang sering kunantikan. Dalam tidurku, bunga tidur yang merupakan teman baikku selalu setia mengajakku bermain, berpetualang, bersenandung dan menikmati lika-liku alam bawah sadarku. Yah, inilah keagungan Tuhan yang menggenggam jiwa (dan roh) hamba-hambanya. Kemudian, ditariklah nafas kehidupan kita tatkala terlelap dan kemudian dihembuskan kembali kepada hamba-hamba yang dikehendakinya. Sungguh sebuah petunjuk bagi hamba-hambanya yang mau berfikir.

Bunga tidurku selalu kupelihara dengan baik, agar tumbuh subur dan tidak layu. Kupupuk dengan doa sebelum tidur. Kusirami dengan tekad dan harapan agar ‘hari esok lebih baik dari hari ini’. Kupagari dengan bacaan istighfar dan ‘audzubillah hi minassyaithon nirrajiim’. Lantas mulailah kutanam benih harapan agar alam bawah sadarku bisa bersahabat malam ini dan mengajakku bertemu dengan orang-orang terbaik yang pernah kukenal dan mungkin orang-orang yang masih samar kuraba bayang wajahnya namun nantinya akan kukenal. Dengan mereka inilah kujalani dan kuikuti jalan cerita yang masih menjadi misteri.

Inilah yang menarik.
Inilah yang selalu kutunggu. Selalau mendebarkan dan penuh kejutan. Bunga tidurku seringkali kujadikan isyarat. Bukan ahli nujum bukan ahli mimpi. Namun selama ini aku meyakini. Bukan syirik bukan bid’ah. Bukan pula masalah hukum halal haram. Namun aku membaca tanda-tanda yang kuyakini adalah misteri. Dan masih hingga kini menjadi misteri.

Aku mempelajari sedikit
. Dan telah bisa membaca. Sedikit. Namun dari sedikit tanda-tanda itu aku bisa mengantisipasi atau mengambil hikmah yang penuh hikmat. Bunga dalam tidurku selalu mengisyaratkan sesuatu. Paling tidak itulah yang selama ini aku alami selama sekitar dua puluh tahun kehidupanku. Mungkin juga tidak selama itu. Namun semenjak aku bisa menangkap adanya tanda-tanda dalam mimpiku. Selanjutnya, aku selalu tertarik untuk membaca tanda-tanda itu.

Sebelum memejamkan mata aku akan terus berdoa dan berharap …
Bertemu mereka-mereka yang terbaik, yang mengajarkanku hal-hal yang terbaik, di tempat-tempat yang terbaik, agar bisa belajar menjadi yang terbaik. Walaupun belajar hanya dari alam bawah sadarku.

** to be continued…

September 10, 2009 Posted by | daily-life, dan lain lan, my favorite, spiritual call | Leave a Comment

Tentang Kehilangan (Sebuah Refleksi Dini Pemikiran Diri)

    “Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya” ( ‘Memiliki Kehilangan’ – Letto )

Ketika mendengarkan lagu ini, tiba-tiba imaginasiku melayang membayangkan konsekuensi dari kehilangan dan merefleksikan pembelajaran diri atas pengalaman kehilangan agar tidak dipandang sebagai situasi yang teramat menyakitkan. Atau, mengantisipasi agar kita tidak sering merasa kehilangan, karena terlalu seringnya merasa memiliki.

Untuk menghindari antiklimaks atas kehilangan yang tidak meng-enak-an. Marilah kita mulai berpikir terbalik…
“Rasa kehilangan tidak akan ada jika kau tidak pernah merasa memilikinya” atau versi antisipatif lain yakni “Jangan pernah merasa memiliki sesuatu (yang berlebih) jika tidak mau merasa kehilangan (yang berlebih)”

Kehilangan merupakan ihwal yang wajar. Respon manusia terhadap kehilangan pun beragam. Ada yang bertahan, namun banyak pula yang tak tahan. Yang pasti, kehilangan meninggalkan rasa yang tidak enak, tidak nyaman, dan penyesalan. Ketika ada sesuatu yang hilang, apalagi itu milik kita yang sangat kita sayang, selalu kita rawat dan kita banggakan. Efeknya : pertama, kesedihan pasti datang seiring dengan rasa janggal yang menghinggapi setelah adanya kepergian atau kehilangan, kemudian muncul kerinduan dan perlahan ada penyesalan yang dibarengi pertanyaan (mengapa kita tidak memberikan dan berbuat yang terbaik atas milik kita yang telah hilang). Aku yakin perasaan itu sungguh tidak nyaman.

Kepemilikan.
Apa esensi dari kepemilikan?? Ditilik dari definisi paling dangkal dan paling sering dibicarakan, marilah kita mulai dengan mencoba mendaftar apa yang kita miliki saat ini. Misalnya saja, orang tua, teman, pacar, rumah, laptop, handphone, pekerjaan, ketenaran, nama baik, harga diri, dan masih banyak lagi yang kita miliki di dunia ini. Aku yakin tidak ada satu pun diantara kita yang mau kehilangan semua itu. Namun bagaimanapun itu, kita harus SIAP jika suatu saat, yang tidak kita inginkan, yang tidak pernah kita harapkan itu datang. Kita harus berpikir bagaimana cara mengantisipasi kehilangan yang datang. Salah satunya, dengan berbuat yang terbaik selama kita memilikinya agar kehilangan tidak semakin menyakitkan karena ada akumulasi penyesalan yang menyesakkan.

Jadi, berbicara tentang kehilangan membuatku menyimpulkan, bahwa : Pertama, kita sepakat bahwa semua orang tidak ingin memiliki kehilangan dan/atau menanggung konsekuensi kehilangan yang tidak menyenangkan. Kedua. Agar tidak merasa kehilangan, jangan pernah merasa memiliki sesuatu. Kalaupun faktanya, sesuatu itu kita miliki. Ingat: statusnya kita miliki. Kepemilikan merupakan status. Jadi kepemilikan tersebut hanya merupakan status yang kita sandang, status yang kita bawa.

Untuk berlatih agar kehilangan tidak dipandang sebagai situasi yang teramat menyakitkan, marilah kita mulai mengubah mindset kita bahwa status kepemilikan kita terhadap sesuatu yang kita miliki selama ini adalah titipan. Ketika kita berpijak bahwa semua yang ada di bumi ini adalah titipan, maka kita akan sadar bahwa status kepimilikan hanyalah semu. Oleh karenanya, kita harus men-set up otak dan hati kita bahwa yang kita miliki merupakan amanah. Jika menyadari bahwa yang kita miliki adalah amanah, maka mulailah kita jaga jaga, rawat, sayangi, hargai, hormati, berkontribusi, dan berbuat sebaik-baiknya. Selain itu kita juga perlu menghayati dengan sepenuhnya bahwa kita sangat mensyukuri apa pun yang kita miliki saat ini.

- Semoga kita mulai belajar mensyukuri dan menyayangi kepunyaan kita selama ini dan saat ini -

September 2, 2009 Posted by | self-contemplation, social life, spiritual call | Leave a Comment

weekend and poem

unpredictably surprissing week. many things happens, comes, and goes. not knowing the reason yet. but i do really believe that it’s part of destiny. this week, i had faced dilemma. and i had to pick one option. it’s hard. every options has its own consequences. cost and benefit consideration is not enough to decide which the right one to pick. but on the end, i had to sacrifice the other thing. ehmm, life is always on the matter of choice. and there must be something to sacrifice.

this weekend, i read a book and found an interesting poem about “LOVE”. and i just loved it.

    God..
    when i find joy in a friend
    remind me that there would be an end
    so i stay with the One who has no end

    God…
    when i am hungry for someone love
    find me the one who longs for Endless love
    so my longing to You is growing strong

    God…
    if i should fall in love with someone
    find me the one who loves You, the One
    so i am getting stronger in loving You, the Only One

    God…
    when i am falling in love
    keep the love
    not to exceed my love to You

    God..
    when i say “i love you”
    make me do it to whose heart get captivated in You
    so i never fall in love aside from the name of You

    as what wise people say…
    to love someone is nothing
    to be loved by someone is something
    to be loved by someone you love is exciting
    but to be loved by The Lover is everything

(by Wiwit-September 2003 from the book “Tafakur; Gado-Gado Simpang Lima” Muhammad Agung Wibowo)

July 5, 2009 Posted by | daily-life, friendship, futuristic, poem, romance, social life, spiritual call | Leave a Comment

Anak Bertanya kepada Bapak

Mendengarkan lagu ini …

    Ada anak bertanya pada bapaknya
    buat apa berlapar-lapar puasa
    Ada anak bertanya pada bapaknya
    tadarus tarawih apalah gunanya

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

    Lihatlah langit keanggunan yang indah
    membuka luas dan anginpun semerbak
    nafsu angkara terbelenggu dan lemah
    bunga ibadah dalam ikhlas sedekah

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

    Ada anak bertanya pada bapaknya
    buat apa berlapar-lapar puasa
    Ada anak bertanya pada bapaknya
    tadarus tarawih apalah gunanya

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

    Lihatlah langit keanggunan yang indah
    membuka luas dan anginpun semerbak
    nafsu angkara terbelenggu dan lemah
    bunga ibadah dalam ikhlas sedekah

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

Membuatku berdoa dan mengharap agar bapak dari anak-anak kelak
bisa menjawab pertanyaan dan menjelaskan dengan sebijaknya; bagaimana memaknai dan menuntun kehidupan dengan bersandarkan pada ajaran yang telah diwariskan oleh Sang Suri Tauladan.
Dua pedoman hidup yang semakin dijauhi oleh kehidupan sekarang ini..

Puasa. Tadarus. Tarawih. Kumerindu Ramadhan yang penuh rahmat. Ramadhan yang penuh hikmah. Ya Allah ya Rahman ya Rahiim, mengapa begitu sulit untuk menjadi hamba yang istiqomah.

June 28, 2009 Posted by | daily-life, family, futuristic, spiritual call | Leave a Comment

inspirasi dini hari

senin,15 juni 2009.
dini hari.ketika menuliskannya,jam laptopku menunjuk angka tiga;sembilan belas.

aku seharusnya menuntaskan paper.tapi aku bosan.akhirnya memutuskan berjalan2 di dunia maya.sendirian.seperti biasa.namun, aku bertemu banyak orang.aku mengamati banyak peristiwa.berdecak sejenak.bersyukur.berharap banyak tentang yang di depan kelak.tapi aku juga tidak melupakan peristiwa2 yang lalu.karena tiba2 ada bayangan lalu yang berkelebat.membuatku berfikir.dan juga merenung.entah mungkin kata2ku ini kurang bisa dipahami.tapi ini yang mengalir dari hati.

malam demi malam ini kulewati dengan mandiri.siklus harian terbalik seratus delapan puluh derajat.seakan waktu belahan dunia barat.aku masih terjaga.hingga dini hari.aktivitas di depan laptop.menulis.berpikir.membaca.merangkai kata.berpikir..bosan.aku butuh hiburan.dibukalah situs pertemanan yang bagaikan lorong waktu.melahap.merampas.sering mematikan produktifitas dan efektifitas kerjaku.benteng diri emang paling sulit dijaga.dan konsekuensinya kembali ke diri.situs pertemanan itu mengijinkanku menjamahi setiap pribadi yang mau terbuka untuk digerayangi profilnya.dan diamati aktivitasnya.aku ingin menyapa sahabat2 lamaku di manca.rasanya rindu rasanya pada mereka.yang sudah aku anggap keluarga.

yah.inspirasi ini muncul dari pengalamanku.inspirasi dari beberapa orang hebat yang pernah aku kenal.memori yang melekat dalam hati.ketika aku pernah dekat.tinggal seatap.pada mereka yang pernah menerimaku menjadi bagian dari hidup mereka.berharap bahwa kami sama2 akan belajar.

mereka yang pertama..perkenalan dan hari-hari awal yang luar biasa.ya, aku diterima.kami mulai berbagi.pada suatu sosok aku merasa sangat dekat.sosok yang lain aku masih merasa canggung.namun semuanya membuatku belajar banyak.lebih memahami.mementingkan komunikasi.sosok yang dekat.aku kagum.sering tersenyum.bahagia.sosok yang bijaksana.selalu terlindungi jika disampingnya.kami memiliki banyak kesamaan karakter.kami sama-sama suka berjalan.seringkali, diambil suatu waktu diakhir pekan, berjalan mengitari taman.menimati alam dan ciptaannya.dan berdiskusi tentang banyak hal.

akhir pekan adalah yang membahagiakan.selain itu,masih mendebarkan.namun,aku lebih dikenal.minggu ke bulan.aku semakin dikenal.aku sering tersenyum.menyapa.dan merasa diterima.aku bahagia di luar.kembali ke dalam.ada tiga hati yang harus lebih kuselami.sebenarnya empat.namun jarak telah memisahkan kami.kesempatan menjadi mahal harganya.namun sosok yang jauh,selalu aku damba.kagum padanya.cemerlang pikir dan cerahnya raut muka.memancarkan aura yang selalu mendamaikan hati.sejak awal,aku bisa merasakan itu.bahwa dia punya potensi.hidayah selalu kuharap datang menyelisik masuk ke bilik-bilik hatinya.

dari situs pertamanan itu pun kau tahu.sekarang dia telah merentas jalannya.aku belajar banyak pula dari sosok itu.tentang minat diri.kesungguhan.kecerdasan.kegigihan.dan selalu bisa dibanggakan.sekarang dia di tanah para nabi.mengartikan hieroglif tentang peradaban.teringat awal ketika sosok itu sungguh2 ingin belajar huruf dan bahasa yang tertulis dan hanya bisa terbaca dari kanan.dia selalu berdecak dan tertantang untuk mengadu tajam otak dengan asahan buku.minatnya adalah negara yang selalu tertindas dan terenggut dari tananya sendiri yang sangat suci.aku tetap kagum hingga sekarang.aku berdoa untuknya.

aku menemukannya berpose di depan makam firaun.namun sekarang dia berada di syiria.dimanapun dia..aku bangga.aku mulai berpikir kembali…

    *aku ingin melanjutkan ceritaku di suatu waktu lagi..
    paperku mengingatkan akan harga mati konsekuensi.sia-sia saja jika menuliskan inspirasi ini malah menenggelamkanku..sudahlah hari ini, harus kulalui.sebagai awal.aku harus selalu lebih baik lagi.belajar dari orang2 hebat.ingat aku harus menjadi kuat.dan aku akan membangun kekuatan mulai hari ini.aku ingin menjadi pemenang bagi perlawanan diriku sendiri.inspirasi dan mimpi.

June 14, 2009 Posted by | dan lain lan, family, friendship, futuristic, intercultural learning, spiritual call, travels | Leave a Comment

Rindu Dekat Dengan-Mu; Nikmat dalam Ibadahku!!

    “Kau tempatku meminta. Kau beriku bahagia. Jadikan aku selamanya hamba-Mu yang selalu bertobat. Ampuniku ya Allah yang sering melupakan-Mu…, dalam sunyi aku bersujud”
    = Padamu Ku Bersujud-Afghan =

Doaku ini tulus. Sebait lagu Afghan di atas mengantarkanku pada sebuah refleksi nurani terdalam dari jiwaku yang kering beberapa waktu ini. Jeritan nurani terdalam ini tidak bisa dibohongi. Aku merasa jauh. Aku hanya berharap diberi hidayah kembali dan semakin dekat dengan Sang Arsitek Kehidupan. Sutradara yang Mahadaya Segalanya.

Secara spiritualitas, bateraiku semakin drop dan butuh di-charge. Dalam keadaan seperti ini, aku bersyukur masih diberi kesadaran untuk mampu mengidentifikasi symptoms yang bermunculan. Aku baik-baik saja. Dalam pengertian semua berjalan dalam kontrol. Akademik. Pekerjaan. Komunitas. Social life. Tapi justru ada yang missing dalam beberapa minggu terakhir ini. Kadar ibadahku menjadi sangat berkurang. Sekali.

Aktivitas. Tuntutan tugas dan profesi. Tekanan waktu. Energi tubuh. Semua saling timpang tindih, sehingga membuat tubuh ini kadang rapuh. Rapuh karena kurang asupan gizi. Juga, kurang asupan nutrisi rohani- karena amalan-amalan rutin nan sunah menjadi terabaikan. Walaupun selalu kusempatan untuk berjamaah setiap harinya, terutama Maghrib dan Isya di masjid. Namun ada yang berbeda. Dimana dan kapan lagi kenikmatan itu akan kurasakan?

Di saat seperti ini. Aku benar-benar butuh obat hati.

June 7, 2009 Posted by | daily-life, spiritual call | Leave a Comment

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.