My Life Framing

.::empowering readers with my life inspiration::.

bernostalgia sore ini

di tempat ini. semua masih tampak sama. yang berbeda, hanya perubahan yang mengiringiku. perubahan yang menyertai orang-orang yang ada di sekitarku. tempat ini, masih berfungsi selayaknya yang dulu. dengan aroma yang sama, tekstur yang tak beda dengan asalnya. aku mengunjunginya lagi sore ini. lama tak kujamah. hanya menyapa dengan congkaknya ketika punggungku membopong  antara tugas dan integritas, amanah dan kewajiban, harga diri dan kesombongan, kesendiran dan komunalisme. semua yang kadang berbalut tipis perbedaan. bagai dua sisi koin mata uang, yang satu media, tapi beda makna.

aku bernostalgia sore ini. meminggirkan dari aktivitas harian. di tempat ini aku menyalami kemelut diri. ketika kungkungan tugas memenjarakan jiwa malam ini dan malam-malam berikutnya. berpacu dengan waktu dan target diri. aku belajar menyadarkan diri. di tempat inilah seharusnya aku memposisikan diri. menjadi pembelajar sejati. yang haus akan ilmu dan kebijaksanaan. mencari makna kehidupan yang mendamaikan dan membahagiakan.

aku melarikan diri sore ini. mengharapkan inspirasi lagi. yag kuharap bukan hanya kata. tidak sekedar janji. ada pembuktian diri yang meleburkan cecaran, cacian, dan omongan gombal. aku hanya ingin menjadi diri sendiri. diriku yang terus berlari mengejar mimpi dan menabung kebaikan-kebaikan yang bermakna bagi kehidupan dan masa depan.

December 17, 2009 Posted by | memory, self-contemplation, social life | Leave a Comment

November telah berjalan

Hari ini, hari pertama di minggu ketiga bulan November. Waktu melaju sangat cepat dan hari senin selalu menjadi acuan dimulainya aktivitas mingguan. Hoaah. Berkali-kali aku menguap. Aku menulis ini dalam kondisi tubuh yang sangat penat. Indikatornya yakni kelesuan tubuh dan seringnya menguap. Namun jangan salah walaupun badan ini terasa lemas dan lesu namun semangat untuk belajar dan berpikir masih menyala. Bahkan saking capeknya tidak sadar sepulang dari jamaah Isya di masjid depan kos malam ini, badan ini terbaring dan tertidur pulas selama beberapa jam. Dan untunglah aku terbangun lagi. Dan lumayanlah cukup mengistirahatkan sel-sel badan yang kelelahan.

Cuaca bulan November sangat romantis. Hehe. Dalam artian hujan dan gerimis adalah fenomena yang kadang melayangkan anganku pada sesuatu. Hujan, mendung, gelap, sendu. Suasana-suasana yang melengkapi perasaan tatkala hujan datang. Yang jelas dan yang pasti hujan berpengaruh pada cucian dan tertahan or tertundanya aktivitas di luar ruangan. Di lain sisi, hujan juga bisa dinikmati dengan kehangatan yang menyamankan.

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun. Wow, demi masa, sesungguhnya manusia berada dalam kerugian. Rugi? Aku kadang merasa rugi ketika keseimbangan hidup tidak terjaga. Perasaan rugi bisa dideteksi oleh hati nurani. Dan ada mekanisme dalam tubuh ini, yang bisa dirasakan oleh jiwa, mengirimkan sinyal-sinyal ketidakberesan. Sinyal itu tertangkap, namun memang, sulit untuk me-reverse dan me-defrag kembali struktur dalam sistem organism ini agar kembali bekerja sesuai dengan fungsinya. Dan keterbatasan diri adalah kuncinya.

Ketika ada kesadaran tentang keterbatasan diri, muncul kekuatan dari dalam jiwa yang sedikit demi sedikit menata kembali keseimbangan itu. Di hari Senin inilah aku ingin menata dan membangun kembali perasaan yang mendamaikan itu. Beberapa waktu ini aku cari, dan memang harus ada niat diri yang kuat. Serta aku terus berdoa supaya kerinduanku pada sesuatu ini dijawab dengan menghadirkan perasaan luar biasa itu. Sadar akan keterbatasan dan paham perjalanan panjang akan membutuhkan dukungan dari kekuatan yang melebihi dari yang bisa terbayangkan.

Keseimbangan dijaga dengan mengerjakan sesuatu secara sungguh-sungguh sesuai dengan porsi dan takaran masing-masing. Mendahulukan kewajiban, tugas, dan prioritas-prioritas, serta belajar ikhlas berbagi. Harus didukung dengan rasa syukur yang tak henti-hentinya dan kesabaran yang tak lelah-lelahnya. Semua dirangkai dalam konsistensi diri yang harus berperang melawan kejemuan, kemalasan, dan godaan-godaan lain yang menggiurkan.

December 7, 2009 Posted by | self-contemplation, social life, spiritual call | Leave a Comment

Indahnya Berbagi

Menulis lagi.
Kukumpulkan semangat untuk menguraikan kata-kata yang bergumul dalam otakku. Paling tidak motivasiku tulus untuk berbagi, melontarkan opini, atau mungkin sekedar curhat masalah pribadi. Apapun itu kuniatkan ‘lillahi ta’ala’. Pada malam terang benderang tatkala sinar bulan sabit serasa teduh menerangi jiwaku, ada perasaan bahagia yang mewarnai beberapa hari terakhirku. Rasa yang secara emosional dan rasional sangat beralasan. Dan kembali, kucoba untuk menetralisir semua dengan focus pada prioritas dan kewajiban.

Beralasan di atas paling tidak bisa kurangkumkan dalam beberapa frasa. Rasa syukur. Ketentraman jiwa. Ridho orang tua. Keberkahan Allah. Ketulusan kasih sayang. Semua frasa di atas sangat mendamaikan diri dan bisa mengobati hati ketika kegelisahan itu muncul.

Mencari dan mengagumi.

Dua aktivitas yang membutuhkan energi. Energi itulah jua yang menggerakkanku untuk menulis lagi dalam blog ini. Hari ini, hari ketiga mid semester. Ujian yang lebih kumaknai sebagai evaluasi diri. Evaluasi dan refleksi diri sebagai mahasiswa HI. Yah, sampai semester lima ini, aku masih mencari apa esensi dari perkuliahan selama ini. (Telat yaa??)

Aktivitas akademis di bangku kuliah yang kadang kurasa sangat ‘absurd’. Absurditas bagiku adalah purely karena tidak optimalnya status mahasiswa yang kusandang. Mahasiswa yang secara etimologis melebihi siswa, seharusnya tuntutan untuk lebih menggiatkan aktivitas intelegensia itu semakin diasah. Namun kenyataanya tetap banyak rentetan alasan yang membuatku sering bergumam, “jika terus seperti ini aku tidak lebih baik dari siswa di bangku sma.”

Secara akademis, dengan jiwa besar aku mengakui bahwa progress intelegensiku kurasakan tidak lebih dari fase sebelumnya. Namun ada yang perlu disyukuri tatkala saat sekarang banyak kesempatan, pengalaman, dan tamparan yang semakin keras justru mengukuhkan semangatku untuk mengukir masa depan. Di bangku perkuliahan inilah awalnya aku mulai mencari penghidupanku sendiri, mengisi kas-kas pribadiku sendiri, dari pengalaman mengajar les, sampai pengalaman kerja part time yang telah mengenalkanku pada aspek-aspek yang belum kupahami sebelumnya. Dipaksa masuk dalam suatu sistem rigid struktural yang kadang menyenangkan dan di lain waktu menguras tenaga dan pikiran.

Dari kegagalan ke kegagalan, kugenggam erat sebuah harapan. Keinginan untuk mendapatkan beasiswa, akhirnya bisa teralisir pada semester ini. jika sebelumnya selalu terganjal status kelayakan dan birokratis praktis yang tidak efektif. Mungkin memang sekarang inilah waktunya. Dan aku memamg layak.

Tetap satu yang kuyakini, ada yang mengatur aliran rezeki kita, asalkan kita tidak hanya berpangku tangan. Dan janji sang Sutradara Kehidupan bahwa akan dibukakan jalan keluar dan rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangkakan, bagi mereka yang mengimaninya, memang benar. Oleh karena itulah aku megimani itu.

Tentang kekaguman dan kasih sayang
Setiap orang pasti menyukai keindahan. Apalagi keindahan yang terbalut dengan kesehajaan yang memikat perasaan. Magnetisme keindahan memang sangat subjektif. Dan dari sifat dasar keindahan yang sangat menyenangkan inilah akan muncul aura positif jika tersalurkan dengan menggunakan energy positif melalui cara yang arif. Lewat proses itulah keindahan akan membawa efek yang menenangkan dan meneduhkan. Mengagumi keindahan adalah sebuah apresiasi sejati dalam menikmati masterpiece kehidupan.

Mengasihi dan menyayangi memiliki makna yang tinggi dalam hubungan intrapersonal umat manusia. Tak ada alasan dan syarat untuk membagi rasa kasih dan sayang. Namun sayang sekali, kadang kasih dan sayang bisa duduk sejajar dengan kepentingan. Kepentingan apa pun itu yang menafikkan hakikat ketulusan. Tulus memang sangat pelik untuk didefinisikan, karena menyangkut ‘feel’ atau ‘rasa’ yang sangat sulit untuk diraba. Kadang juga sangat manipulative dan terlihat ilusif karena daya jamah manusia yang terbatas pada tataran empiris.

Berbagi adalah mekanisme penyaluran kasih sayang yang sederhana, namun sangat berharga. Maka dari itulah, aku sangat menghargai dan mengagumi pada mereka yang tulus berbagi. Terutama berbagi kebaikan yang mempunyai efek membaikkan. Ada kalanya kita memiliki ruang pribadi yang kita batasi agar orang lain berhenti dan tidak bisa melampaui. Namun ada kalanya kita patut berbagi.

Sangat indah, jika kita mempunyai hal yang dapat kita bagi dengan orang lain. Berbagi memberikan sensasi yang berlipat ganda dibanding dengan efek ketika kita menikmatinya sendirian. Hal-hal tertentu inilah yang patut kita renungkan dan resapi. Manakah yang layak dibagi, manakah yang harus kita simpan sendiri, di ruang pribadi. Ataukah kapan kita harus berbagi dan kapan kita harus meresapinya sendiri.

Kamar Kos4 Swa7A,
Rabu, 281009, 22;57

October 29, 2009 Posted by | academic stuff, daily-life, self-contemplation, social life | Leave a Comment

Tentang Kehilangan (Sebuah Refleksi Dini Pemikiran Diri)

    “Rasa kehilangan hanya akan ada jika kau pernah merasa memilikinya” ( ‘Memiliki Kehilangan’ – Letto )

Ketika mendengarkan lagu ini, tiba-tiba imaginasiku melayang membayangkan konsekuensi dari kehilangan dan merefleksikan pembelajaran diri atas pengalaman kehilangan agar tidak dipandang sebagai situasi yang teramat menyakitkan. Atau, mengantisipasi agar kita tidak sering merasa kehilangan, karena terlalu seringnya merasa memiliki.

Untuk menghindari antiklimaks atas kehilangan yang tidak meng-enak-an. Marilah kita mulai berpikir terbalik…
“Rasa kehilangan tidak akan ada jika kau tidak pernah merasa memilikinya” atau versi antisipatif lain yakni “Jangan pernah merasa memiliki sesuatu (yang berlebih) jika tidak mau merasa kehilangan (yang berlebih)”

Kehilangan merupakan ihwal yang wajar. Respon manusia terhadap kehilangan pun beragam. Ada yang bertahan, namun banyak pula yang tak tahan. Yang pasti, kehilangan meninggalkan rasa yang tidak enak, tidak nyaman, dan penyesalan. Ketika ada sesuatu yang hilang, apalagi itu milik kita yang sangat kita sayang, selalu kita rawat dan kita banggakan. Efeknya : pertama, kesedihan pasti datang seiring dengan rasa janggal yang menghinggapi setelah adanya kepergian atau kehilangan, kemudian muncul kerinduan dan perlahan ada penyesalan yang dibarengi pertanyaan (mengapa kita tidak memberikan dan berbuat yang terbaik atas milik kita yang telah hilang). Aku yakin perasaan itu sungguh tidak nyaman.

Kepemilikan.
Apa esensi dari kepemilikan?? Ditilik dari definisi paling dangkal dan paling sering dibicarakan, marilah kita mulai dengan mencoba mendaftar apa yang kita miliki saat ini. Misalnya saja, orang tua, teman, pacar, rumah, laptop, handphone, pekerjaan, ketenaran, nama baik, harga diri, dan masih banyak lagi yang kita miliki di dunia ini. Aku yakin tidak ada satu pun diantara kita yang mau kehilangan semua itu. Namun bagaimanapun itu, kita harus SIAP jika suatu saat, yang tidak kita inginkan, yang tidak pernah kita harapkan itu datang. Kita harus berpikir bagaimana cara mengantisipasi kehilangan yang datang. Salah satunya, dengan berbuat yang terbaik selama kita memilikinya agar kehilangan tidak semakin menyakitkan karena ada akumulasi penyesalan yang menyesakkan.

Jadi, berbicara tentang kehilangan membuatku menyimpulkan, bahwa : Pertama, kita sepakat bahwa semua orang tidak ingin memiliki kehilangan dan/atau menanggung konsekuensi kehilangan yang tidak menyenangkan. Kedua. Agar tidak merasa kehilangan, jangan pernah merasa memiliki sesuatu. Kalaupun faktanya, sesuatu itu kita miliki. Ingat: statusnya kita miliki. Kepemilikan merupakan status. Jadi kepemilikan tersebut hanya merupakan status yang kita sandang, status yang kita bawa.

Untuk berlatih agar kehilangan tidak dipandang sebagai situasi yang teramat menyakitkan, marilah kita mulai mengubah mindset kita bahwa status kepemilikan kita terhadap sesuatu yang kita miliki selama ini adalah titipan. Ketika kita berpijak bahwa semua yang ada di bumi ini adalah titipan, maka kita akan sadar bahwa status kepimilikan hanyalah semu. Oleh karenanya, kita harus men-set up otak dan hati kita bahwa yang kita miliki merupakan amanah. Jika menyadari bahwa yang kita miliki adalah amanah, maka mulailah kita jaga jaga, rawat, sayangi, hargai, hormati, berkontribusi, dan berbuat sebaik-baiknya. Selain itu kita juga perlu menghayati dengan sepenuhnya bahwa kita sangat mensyukuri apa pun yang kita miliki saat ini.

- Semoga kita mulai belajar mensyukuri dan menyayangi kepunyaan kita selama ini dan saat ini -

September 2, 2009 Posted by | self-contemplation, social life, spiritual call | Leave a Comment

weekend and poem

unpredictably surprissing week. many things happens, comes, and goes. not knowing the reason yet. but i do really believe that it’s part of destiny. this week, i had faced dilemma. and i had to pick one option. it’s hard. every options has its own consequences. cost and benefit consideration is not enough to decide which the right one to pick. but on the end, i had to sacrifice the other thing. ehmm, life is always on the matter of choice. and there must be something to sacrifice.

this weekend, i read a book and found an interesting poem about “LOVE”. and i just loved it.

    God..
    when i find joy in a friend
    remind me that there would be an end
    so i stay with the One who has no end

    God…
    when i am hungry for someone love
    find me the one who longs for Endless love
    so my longing to You is growing strong

    God…
    if i should fall in love with someone
    find me the one who loves You, the One
    so i am getting stronger in loving You, the Only One

    God…
    when i am falling in love
    keep the love
    not to exceed my love to You

    God..
    when i say “i love you”
    make me do it to whose heart get captivated in You
    so i never fall in love aside from the name of You

    as what wise people say…
    to love someone is nothing
    to be loved by someone is something
    to be loved by someone you love is exciting
    but to be loved by The Lover is everything

(by Wiwit-September 2003 from the book “Tafakur; Gado-Gado Simpang Lima” Muhammad Agung Wibowo)

July 5, 2009 Posted by | daily-life, friendship, futuristic, poem, romance, social life, spiritual call | Leave a Comment

Doing a Favor as an Honor

I have been thinking this over and over. I reflected this through my experiences. Once I remembered when my mom asked me for help, I said ‘yes’, but then I procrastinate doing things. Afterwords, she reminded me about ‘how much I have done things only for myself and not really help(think)what-others-doing’. She said it calmly but it felt so strong. I was speechless then. Somehow that’s really true.

When I was in kost especially. A hundred percent of my activity is only self-oriented. I did study, work, go to library, eat, finish my paper, sleep, clean my room, and so on..mostly for myself. Yes, I socialize with others, yes sometimes I help others, give charity, make others smile, make others happy. But mostly it’s only on my own interest. And I never truly mean it, feel it.

What my mom actually want to say (maybe) “Honey, please do favour for others sincerely.” Since then, I tried to contributed my best part for others. I TRIED to.. I have been trying to share my happiness with others, sharpen my empathy skills, and try to do favour for others as an honor.

June 28, 2009 Posted by | daily-life, family, futuristic, my favorite, social life | Leave a Comment

We are an AFS-ers!!

“We are an AFS-er. Mighty AFS-er.
Everywhere we go. People want to know.
Who we are. So we tell them.
If they can’t hear us sing a little louder”

Above is very memorable song, taught in The National Orientation in Jakarta, before leaving Indonesia for United States. It was few years ago. 2005. So, it was about four years ago. Wow, it has been so long. So, why did I wrote about that? Hmm, up till now AFS is still in my heart. AFS experience was one of the best experience of my life. A year that means a lot. One year full of life-lessons, unforgettable memories, and personal growth. According to my friends and I, an exchange year experience in high school with AFS is like a jumping-stone to gain more achievements and define the meaning of ‘succes’ in the future.

AFS had given me more than I expected before. Living in the States with my beloved host family who considered me like their own daughter, dedicated, and shared their life to give me the best year of my life. Then, I went to high school which is totally different from home, but then, finally I made many friends. I joined in club, so I have more time get to know my friends deeply. I adjusted perfectly in every single part my host town. Ridgewood. The Maddens. Ridgewood High School. New Players Company. And so on. Wow I felt the strong sense of belonging. Afterwords, we loved each other and hopefully can make a difference in our society.

Back home. I had to finish my senior year. That’s not a problem. Because the experience is really worthed and the opportunity just came once. AFS experience even made us tougher and smarter somehow. We got used to overcome various problems and obstacles. We had skill to adapt with new people and new situation quickly. So, even when we had to readjust to our normal and routines life back home. It didn’t take long time. And that’s why the post orientation is really essential.

I could not deny that the experience in the States changed me someway. The problem is when someone used to live in one certain condition, then (for the first time) had to move to extremely different place, custom, values, environment, and people – she/he would experience ‘culture shock’. Everybody did so. I did it twice. First, when I came to the States, and second when I came back home from the States. Different culture shock with the different sensation. But I could adjust quickly. That’s the importance of preparation. And I really appreciated for the re- and post- orientation program of AFS National-Bina Antarbudaya, Jakarta. The orientation helped me so much to set up my mind and provide problem solving for each condition.

AFS is love. AFS is brotherhood/sisterhood. Yeah, I really feel that way. AFS experience introduced me to the new family, tought me about love and understanding, and bounded me to such a tight relationship, named ‘brotherhood and sisterhood’. When we are in the hosting country and far away from our parents, relatives, and friends, the other AFS friends was becoming our next shoulder to share about, cry on, and make us laugh and smile. AFS friends became the only friends having the same experience, feeling the same thing, and living in the same circumstances. That’s way we are closed each other. Although every person valued the different experience, but we share many common things.

Becoming AFSer passed through such a long and tight selection process. More than a year. I can say that we qualified certain standards of being chosen people. Generally, AFSer is person who has the certain criteria, such as an active student, having a good leadership skill, experienced in organization and social works, easily adjust in new and different palace and people, calm enough in action, open minded, and so on. Passing through the whole selection needs effort, skill, and also ‘x-factor’. Sometimes hard to predict which ones who would become exchange students. But long selection process determined our eligible capacity.

May 11, 2009 Posted by | friendship, intercultural learning, social life, travels | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.