ketika ‘ku malu pada hari itu
Ya Rabb, apa arti desiran ini?
Halus tapi sangat dahsyat menggetarkan syaraf inderawi
Aku malu, tertunduk dan tersipu
Entah, aku tak berani menatap
Aku pelan-pelan berucap
Dan, aku akan bersabar,
Menghindari yang subhat, meyakini yang halal
Jika malu adalah sebagian dari iman
Aku memilki sebagian iman kala itu
Dan kuberdoa selalu,
sebab dalam inginku kau melengkapinya sehingga yang sebagian menjadi utuh
yang menyempurnakan separuh dari agamaku, agamamu.
Pada Sebuah Nama
Tanpa suara aku bergumam mesra. Pada angin yang berhembus kutitipkan salamku. Dalam diam seribu bahasa aku memaknai kalbu. Nama itu selalu. Nama itu menggangguku, dan terus menderu. Dan kepada rasa kubungkamkan asa itu. Pada senja menjelang malam, aku bersaksi. Tidak ada janji dan tak akan ada yang mengingkari. Terlalu dini untuk mengakui, ada satu hati yang menanti. Kuraba hatimu dengan hati-hati, tak kudapatkan yang kumau. Bagai menjangkarkan ragu dalam rasio dan waktu. Jalan-jalan menjemput kenangan. Pada masa yang lalu aku terharu. Pada lembutnya laku dan sorot mata yang sayu. Terpaku terpalu dalam hadir yang menghanyutkan. Membagi mimpi yang sempat terucapkan. Dalam nada dan doa ada segan yang memisahkan. Enggan dalam menguraikan pengharapan. Terbentengi kalut dan kabut yang mengelilingi pemandangan. Pandangan sekitar yang semakin membiaskan. Kedekatan yang justru menjauhkan.
Something StupiD
Pernah ada cerita ini, once upon a time..
Kesepakatan untuk memilih suatu jalan, entah itu belok atau lurus, adalah tanggung jawab berdua. Waktu itu semua seolah ditanggung berdua. Antara pihak pertama yang setia bergumam di sini dan pihak kedua di sana yang di masa lalu pernah akrab dan di masa kini menjadi bahan pembelajaran untuk masa depan. Saat itu, kedua pihak sepakat memilih jalan belok yang dianggap menantang dan penuh pengharapan.
Sampai akhirnya, terhenti karena pihak pertama memilih untuk memutus harapan karena tidak yakin akan sampai ke ujung jalan yang telah dipilih bersama. Dilematis. Ketika keyakinan dihadapkan dengan pengharapan. Some people said, it was such a wishful thinking. Apalagi dua pihak tidak mampu lagi saling berpegangan dan saling menguatkan. Sebaliknya, ketika jalan semakin berliku, gelap, banyak onak dan rintangan, kekuatan jiwa raga terasa semakin rapuh.
Pilihan pun dijatuhkan. Ketika menemui jalan bercabang. Kebingungan pun menghadang, belok kiri, belok kanan, atau jalan lurus. Walaupun tanpa percekcokan, namun emosi dan perasaan terperas karena kehilangan pegangan. Sungguh suatu perjuangan yang melelahkan ketika menyadari tempat yang dituju ternyata berbeda dan baru menyadarinya di tengah bahtera.
Saat itu menyayangi seakan menyayangkan. Ternyata, semua itu adalah pembelajaran. Kedua pihak saling bermaafan. Walaupun sampai kini seolah tak lagi pernah berkenalan. Namun kenangan itu, sekarang hanya ‘untuk dikenang’ dan sebagai pembelajaran.
Pihak kedua gemar bersenandung “ Don’t Wanna Lose You Now” seraya berjanji “This I Promise You” sambil meyakinkan bahwa “Nothing Gonna Change My Love For You”. Dam biasanya, semua ditutup dengan lagu “Untuk Dikenang”. Sedangkan pihak pertama lebih suka berdendang lagu ‘Something Stupid’
Afterall, afterward,
“..and then I go and spoiled it all by saying something stupid like I Love You (too)!!” Then, I do something stupid (again) to write something stupid (again) to make the meaning come true. Haha
. Stupid.
Terimakasih telah berbagi dan memberi, mengajarkan sesuatu yang belum dimengerti dan sudi mengisi hati yang tak lelah bermimpi.
Ehmm, agak segan juga menulis blog dengan tema ini. Apalagi prolognya, terkesan sangat melankolis dramatis, tipekal romansa cinta dan liku-likunya yang kadang membikin nelangsa dan kehilangan logika. Tetapi begitulah cinta, deritanya memang tiada akhir. . Lohh.
Kesegananku karena memang tak biasa. Karena, kebiasaan memberikan keringanan dan pembebasan dalam mengekspresikan rasa. Dan, aku tertahan keseganan karena kebiasaan yang aku pilih dengan tujuan pembebasan berjangka panjang di depan.
music of my heart:ON
i loved kla project songs
i loved this song
.negeri di awan.

di bayang wajahmu
kutemukan kasih dan hidup
yang lama lelah aku cari
di masa lalu
kau datang padaku
kau tawarkan hati nan lugu
selalu mencoba mengerti
hasrat dalam diri
kau mainkan untukku
sebuah lagu
tentang negeri di awan
dimana kedamaian menjadi istananya
dan kini tengah kau bawa
aku menuju kesana
ternyata hatimu
penuh dengan bahasa kasih
yang terungkapkan dengan pasti
dalam suka dan sedih
weekend and poem
unpredictably surprissing week. many things happens, comes, and goes. not knowing the reason yet. but i do really believe that it’s part of destiny. this week, i had faced dilemma. and i had to pick one option. it’s hard. every options has its own consequences. cost and benefit consideration is not enough to decide which the right one to pick. but on the end, i had to sacrifice the other thing. ehmm, life is always on the matter of choice. and there must be something to sacrifice.
this weekend, i read a book and found an interesting poem about “LOVE”. and i just loved it.
-
God..
when i find joy in a friend
remind me that there would be an end
so i stay with the One who has no end
God…
when i am hungry for someone love
find me the one who longs for Endless love
so my longing to You is growing strong
God…
if i should fall in love with someone
find me the one who loves You, the One
so i am getting stronger in loving You, the Only One
God…
when i am falling in love
keep the love
not to exceed my love to You
God..
when i say “i love you”
make me do it to whose heart get captivated in You
so i never fall in love aside from the name of You
as what wise people say…
to love someone is nothing
to be loved by someone is something
to be loved by someone you love is exciting
but to be loved by The Lover is everything
(by Wiwit-September 2003 from the book “Tafakur; Gado-Gado Simpang Lima” Muhammad Agung Wibowo)
Andai..
entah..
titik temu itu selalu tumpul..
semakin menyayang semakin kita menyayangkan
bagai dua garis paralel
bayang masa depan semakin menjauhkan
ayal tuk menyatukan tujuan
sayang tak cukup meyakinkan
semakin ke depan rasa sayang akan dipertaruhkan
semakin yakin pula tak bisa lagi dipertahankan
andai kau cukup dewasa mengerti
andai aku cukup bijak memahami
tatkala sorot matamu berpesan “kita akan memperjuangkan”
berjuang harus dengan kekuatan
namun kerapuhan mulai mengikis perasaan
kekuatan tinggallah harapan
dan harapan tinggallah kenangan
andai aku masih belum yakin saat ini
mungkin bersabar adalah jawaban
yang masih kuyakini hingga saat ini
“semua akan indah pada waktunya”
Tanpa suara aku bergumam mesra. Pada angin yang berhembus kutitipkan salamku. Dalam diam seribu bahasa aku memaknai kalbu. Nama itu selalu. Nama itu menggangguku, dan terus menderu. Dan kepada rasa kubungkamkan asa itu. Pada senja menjelang malam, aku bersaksi. Tidak ada janji dan tak akan ada yang mengingkari. Terlalu dini untuk mengakui, ada satu hati yang menanti. Kuraba hatimu dengan hati-hati, tak kudapatkan yang kumau. Bagai menjangkarkan ragu dalam rasio dan waktu. Jalan-jalan menjemput kenangan. Pada masa yang lalu aku terharu. Pada lembutnya laku dan sorot mata yang sayu. Terpaku terpalu dalam hadir yang menghanyutkan. Membagi mimpi yang sempat terucapkan. Dalam nada dan doa ada segan yang memisahkan. Enggan dalam menguraikan pengharapan. Terbentengi kalut dan kabut yang mengelilingi pemandangan. Pandangan sekitar yang semakin membiaskan. Kedekatan yang justru menjauhkan.


