My Life Framing

.::empowering readers with my life inspiration::.

Refleksi Perjuangan Mahasiswa dalam Ruang Hampa 1.39-3.15 a.m

Malam selarut ini aku masih terjaga. Semakin malam semakin sulit untuk memejamkan mata, bahkan otakku semakin lincah berpikir. Memikirkan segala sesuatu yang ‘random’. Entah itu tentang orang, tempat, kenangan, masa depan, kebodohan, dan sebagainya. Di sepertiga malam terakhir seperti ini harusnya aku bersimpuh di atas sajadah panjang terbentang, memohon ampun dan menceritakan segala harapan dan keinginan. Namun, aku justru berserah diri di depan laptop dan mencurahkan sebagian isi hati pada lembaran ini.

Sebelumnya, aku sengaja membuka buku ‘future sketch’ milikku. Di sana tersusun target dan poin-poin harapanku. Capaian-capaian yang ingin kuraih, dan batasan umur yang kubidik. Semua hanya rencana dan sifatnya fleksibel, untuk kontrol dan reminder diri. Banyak misteri yang belum tersikap. Dan semua itu dalam kendali kita, selain tentunya sang Sutradara Kehidupan.

Apakah Bijak,… Padahal…
Tiba-tiba aku teringat pesan bapak dalam sebuah sms singkat beliau beberapa bulan yang lalu. “Tapi ingat lo Nduk, prioritas utama tetep kuliah.” Ya Tuhan, aku jadi tersadar apakah selama ini aku sudah memprioritaskan kuliah. Aku sendiri tidak yakin. Di tengah beberapa kegiatan yang aku ikuti, kadang aku suka menomorduakan kuliah. Kadang orientasi prioritasku berubah-ubah tergantung suasana hati dan lingkungan. Dua faktor ini sangat mempengaruhi ‘rational choice’ yang aku buat. Kemudian aku berpikir, tujuan awalku ke Yogyakarta adalah untuk belajar (kuliah;red) di UGM. Selama masa kuliah inilah aku mencoba mencari pengalaman sebanyak mungkin. Namun, aku disadarkan bahwa statusku yang paling diakui di sini adalah sebagai mahasiswa, yakni untuk belajar, mencari ilmu pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai kehidupan, yang nantinya akan digunakan sebagai sumber kebijaksanaan dalam hidup.

Jadi puncak dari proses keilmuan adalah supaya manusia lebih bijaksana. Oleh karena itulah, ketika aku sudah terjebak dalam berbagai aktivitas, pertanyaan yang seharusnya muncul sebagai bahan pertimbangan adalah apakah bijak jika aku mengambil keputusan untuk melakukan x atau y, padahal bla-bla-bla. Misalnya, apakah bijak sebagai mahasiswa aku suka membolos kuliah, padahal orang tua di sana berpikir bahwa anaknya sedang mencari ilmu di UGM. Apakah bijak jika sebagai mahasiswa aku tidak mengusahakan yang terbaik dalam mengerjakan tugas, atau menyiapkan ujian, atau menulis skripsi, dan sebagainya, padahal orang tua sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal orang tua akan tersenyum bangga jika anaknya lulus dengan predikat terbaik, padahal orang tua akan bahagia jika anaknya bisa memperoleh pekerjaan yang layak dan lebih baik dari mereka. Dan masih banyak lagi pertanyaan dengan rumus : apakah bijak…, padahal…

Perjuangan Mahasiswa
Kemudian aku mencoba memperhatikan teman-teman di sekitarku. Kepada mereka yang masih menyandang status mahasiswa, ataukah belajar dari mereka yang sudah menanggalkan status kehormatan itu untuk mempersiapkan level kehidupan selanjutnya. Memang tipe-tipe mahasiswa sangat bervariasi layaknya karakter manusia yang juga beragam. Ada mereka yang aktif di organisasi, yang ulet berbisnis, yang tekun bekerja, yang giat berdakwah, yang hobi nge-mall, yang suka bergaul, dan sebagainya. Semua itu adalah pilihan. Dan masing-masing orang mempunyai alasan atas pilihannya tersebut.

Belajar dari berbagai tipe mahasiswa di atas, seringkali aku terpukau pada sosok-sosok di sekitarku yang sangat gigih dalam memperjuangkan visi-misinya. Dan pada mereka yang memegang teguh prinsipnya. Aku pernah mendengar perkataan teman “Perjuangan lebih penting daripada kehidupan”. Menurutku itu mengandung arti yang sangat dalam. Perjuangan bagi mereka yang menganut paham pragmatis, praktis, oportunis, pasti berbeda dengan perjuangan ‘pejuang sejati’ yang sangat menghayati proses perjuangan, dalam susah payahnya, dalam deras peluhnya, dengan ikhtiarnya, dalam tirakat-nya, dan semua yang dilakukan secara sungguh-sungguh.

Mario Teguh pernah berkata, pekerjaan yang paling sedikit saingannya adalah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kadang hal itulah yang membuat aku malu. Berapa persen kesungguhanku selama ini dan sebarapa gigih kah perjuanganku selama ini??! Menjadi mahasiswa memang selayaknya mengalami proses pembelajaran kehidupan, termasuk salah satunya pembelajaran dalam ‘field’ (major) yang kita pilih. Proses ini berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan kegiatan berkesinambungan yang mendukung proses tersebut, termasuk diantaranya aktivitas membaca, menulis, menganalisis, dan meneliti. Semua itu telah diajarkan sejak semester satu, dikaitkan dengan bidang keilmuan yang kita pilih.

Kebiasaan menjadi tuntunan: “bisa karena biasa”
Sebagai mahasiwa fakultas sosial dan politik, aktivitas membaca dan menulis merupakan suatu keharusan. Sayangnya kesempatan-kesempatan yang telah diberikan di ruang kelas kurang dimanfaatkan secara optimal. Misalnya saja tugas menulis critical review literature, menulis esai atau paper, diskusi, dsb. Seharusnya aku bisa berkembang melalui aktivitas-aktivitas tersebut. Namun jarang sekali aku benar-benar menghayatinya, memperjuangkan yang terbaik secara sungguh-sungguh, sehingga hasilnya ya seperti ini. Padahal seharusnya aku bisa memperoleh skill dan knowledge yang lebih paripurna dan lebih berdaya kuantum.

Membaca memang merupakan syarat utama. Subhanallah, dalam agama Islam, kita diingatkan bahwa perintah pertama umat manusia adalah membaca. Membaca dan membaca. Aku jadi malu sendiri jika keinginanku yang tinggi tidak diimbangi dengan kebiasaan yang mendukung. Keinginan untuk mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri misalnya seharusnya kuimbangi dengan kebiasaan membaca literature dan referensi lain yang akan mendukung perkembangan otakku. Tentunya kemampuan menulis ilmiah harus diasah sejak kini. Karena itu adalah modal studiku.

Kembali lagi, bapak pernah berpesan agar sejak saat ini aku harus mempersiapkan skripsi. Setidaknya mempunyai buku khusus untuk mencatat tema-tema atau note-note penting berkaitan dengan skripsi. Aku pernah sempat memilikinya namun nasibnya memprihatinkan karena sering diabaikan. Aku harus memulainya kembali. Kemudian, orang tuaku juga mengharapkan anak nomor satu mereka ini dapat melanjutkan studi tingkat lanjut. Sempat aku protes saat itu, “.., tapi kapan aku menikah?” Hehe. Ouh sungguh pertanyaan yang sangat masuk akal menurutku. Tapi kembali mereka meyakinkan, “Sudahlah, ada waktunya sendiri, nanti pasti ketemu, sudah ada jodohnya masing-masing, berdoa saja”. Ya baiklah pikirku dalam hati, ridho orang tua melebihi segalanya dan aku juga mengharapkan doa mereka supaya mendapatkan yang terbaik.

Mengenai studi lanjut S2, target beasiswa adalah suatu keharusan. Sangat memberatkan jika harus membiayainya sendiri atau tidak mungkin meminta lagi pada orang tua. Ataukah aku harus bekerja lebih dahulu, kadang itulah yang menjadi dilemma. Kerja dulu baru kuliah, ataukah kuliah dulu yang maksimal supaya memperoleh pekerjaan dengan standar yang lebih tinggi. Apapun itu nantinya tergantung situasi dan kondisi. Mungkin yang aku rencanakan saat ini akan berubah nantinya. Siapa tahu. Karena suatu kewajaran dalam diri manusia untuk berubah, pun dalam sepersekian detik sesuatu yang kita rencanakan bisa berubah.

Pilihan berkarir
Ini bukan perkara gender bias. Namun pressure antara laki-laki dan perempuan dalam kultur kita memang berbeda. Dari pengalaman dan observasi sekelilingku, laki-laki mempunyai beban dan pressure yang lebih besar dibanding perempuan. Mereka kadangkala ingin segera bekerja dan memilki penghasilan tetap karena faktor tanggung jawab dan tanggungan yang diamanahkan kepada mereka. Perempuan relative lebih santai dan tidak tertekan untuk segera bekerja. Memang semua itu tidak bisa digeneralisasi namun keadaan ad hoc masih menunjukkan tren yang sama.

Perempuan juga terbatasi ruang gerak tertentu jika ingin berkarir. Naluri dan kodrati alamiah perempuan sebagai calon ibu juga sangat mempengaruhi. Ada kalanya perempuan harus berhenti atau cuti. Bagiku hal itu bukanlah penghalang. Walaupun di suatu masa pernah perdebatan tentang pilihan karir menjadi penghalang dalam satu hubungan. Namun semakin ke sini, kedewasaan berpikir akan semakin berkembang, perubahan pun juga bukan sebuah keniscayaan.

Para mahasiswi harus sadar bahwa proses-proses yang berlangsung selama ini akan mempengaruhi hasil di masa mendatang. Ilmu, pelajaran, pembangunan karakter, dan pengalaman yang telah kita dapatkan selama ini pada dasarnya adalah modal untuk membangun generasi yang lebih baik dan lebih luhur ke depan. Semua yang kita lakukan pasti tetap ada manfaatnya, jikalaupun nantinya kita tidak mendapat kedudukan atau pekerjaan sesuai dengan yang telah kita perjuangkan dalam proses tersebut. Namun semua pasti bermanfaat dan harus kita manfaatkan secara bijaksana untuk mendidik calon generasi penerus bangsa.

Konklusi
Merajut masa depan harus dimulai saat ini. Perjuangan untuk menjadi mahasiswa sejati-yang sungguh-sungguh dalam menggapai visi-misi harus sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kita bina sejak dini. Menjadi mahasiswa harus progressive dalam meraih mimpi. Namun hal itu tidak cukup dinilai dengan indikator keberhasilan atau kesuksesan yang kita capai namun pada tingkat kebijaksanaan yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan.

Masa depan adalah misteri. Apapun pilihan masa depan kita, keyakinan akan pilihan-pilihan yang kita ambil pasti mempunyai pertimbangan alasan-alasan dan dapat kita pertanggungjawabkan nantinya, untuk diri sendiri, orang-orang yang kita cintai, lingkungan kita, dan di hadapan sang Khaliq, Mahadaya segala-galanya.

Menjelang 1 November 2009

November 2, 2009 Posted by | academic stuff, daily-life, family, futuristic | Leave a Comment

Grateful is Meaningful

water-drop-1168751

Pulang senantiasa memberikan oase penyegar ketika jiwa dan rohani kekeringan. Seperti biasa, banyak renungan yang disingkap, banyak wejangan yang di dengar, banyak hal sekecil apapun yang diperhatikan. Dan keluarga selalu tahu. Itulah yang aku syukuri. Mempunyai keluarga yang selalu mengingatkan. Hal kecil yang selalu aku remehkan, tindak-tanduk yang menjadi kebiasaan, namun mengabaikan tuntunan, penyakit hati yang aku pelihara tanpa sadari, dan sebagainya. Menjadi bahan evaluasi dan refleksi. Dan aku kembali bersyukur bahwa semakin ke sini keluarga merupakan kekuatan terbesarku dalam meraih mimpi.

Nikmat terbesar yang Allah berikan, yakni iman dan Islam akan semakin menjalar dalam pori-pori jiwa ketika ada konduktor keluarga. Iman yang naik turun adalah hal yang alami. Godaan di dunia sangat besar dan menggiurkan. Semua bisa dihadapi dengan hati yang melegakan dan menenangkan jika dibingkai dalam frame keagamaan yang kuat. Religi. Spiritulitas diri adalah kebutuhan. Pengobat lara hati dan kemelut kehidupan. Kekuatan itu akan semakin kokoh jika dibangun bersama. Bekerja sama saling sinergis dalam menggapai suatu visi bersama. Itu juga bagian lain dari esensi keluarga. Keluarga hendaknya saling menguatkan, dan semakin ke depan semakin mendukung dalam proses perbaikan setiap anggota keluarga.

Allah memberikan banyak sekali bonus dan hadiah selama Ramadhan ini. Itulah yang aku rasakan, kuresapi dengan segenap perasaan. Betapa besarnya nikmat yang Allah berikan. Kepadaku dan keluarga. Oleh karenanya, tak salah jika ibu selalu mengingatkan, banyak bersyukur, bersedekah, dan meningkatkan kualitas ibadah. Senada dengan itu, bapak tak lelah mengingatkan keutamaan sholat awal waktu dan menunjukkan fadhilah membaca Al Quran. Sementara dari adik, dalam geriknya aku belajar tentang ketekunan, ketekunan, dan ketekunan.

September 18, 2009 Posted by | family, futuristic, self-contemplation, spiritual call | Leave a Comment

H.O.M.E.

no other places like home.it’s holiday time-summer break. i am supposed to be at home. spend my days with family. but the fact, i am still here. staying in kost. in the usual place where i used to study. i survived here. i have decided to choose this way. so no need to regret. like my mom said that life is full options. so i have to do my best on what i have chosen. there must be wisdoms on it.

this semester. many things to be grateful. thanks God for everything since the beginning of semester. first time i played like ‘nothing to loose’. at that time my principle was ‘if things still on my fortune, i will get and not loose it.’ i almost gave up then. but God made other scenarios. He sent me big helper. i learnt alot from this human being. he helped me a whole alot. sincerely. he just deliver one messages : that is ask me to learn to be a useful and meaningful person for others. flew to Europe and valued the atmosphere-living there are still on my fortune.

back to routines. back to my homecountry. i didn’t want to left-behind. so little by little i tried to catch up with my studies in university. kinda hard. because i still had the euphoria of europe. my mind are still in trondheim, norway. my brain couldn’t think anything else beside memorizing the moments in denmark and france. but, the experience in isfit taught me alot that i had to be better and dream BIG. so, that i can make a change, make a difference, not only in my society but also in this world. many great people on that events inspired me alot that youth is the future leader. so open my eyes bigger from that moment on.

GPA this semester. i dont know yet. but from the temporary result, i am relieved. five of eight subject. i got almost straight A’s. God, that’s more than i expected. although still so risky. because the rest of my grades may downgrade my GPA. but at least, i am secured from the worst-prediction i had before. big thanks to God and my lecturer. grade makes me so happy somehow.

making money. i am thanksful that i had new job. a part-time job. so far i tried to enjoy my job. i learned alot thou’. i have to take advantage of this oportunity. somehow feel lucky. some other-how feel bad. what i loved most is the positive-atmosphere of young people spirit, worthed experiences, and non-stop learning. i am a new staff. so, i learned from the basic. surprisingly, i got big responsibility. should i be grateful or should i be regreted. it really examined my work-quality, leadership-skill, and others capabilities. it’s a challange. a big challange for the new beginner. OMG. i have to deal with it. i need big supports. i have to be STRONG. yeah, also, i have to sacrifice things if i want to gain other things.

i sacrificed things. my time to have internship in deplu. my time to have a long vacation. my time with my beloved family in my hometown. so, i have to succeed on my decision and my responsibility. but whenever i start focusing on the project. my mind flew at home. i dont know why. just home.home.and home. keep echoing on my head. so like usual, when i feel weak and fragile, i always try to improve my spiritual-quality. i need to. i had to ask more. more. big help to make a great scenarios. so for asking BIG, i have to do BIG first.

HOME. i need to go home before d-day of presidential election. i need to search on inspirations and fill my positif energy at home.

i found this motivational chain of words.

    Wahai Hati Yang Mencari,
    ini yang aku undangkan kepada mu, bahwa

    Masa yang baru ini harus kau masuki dengan kekuatan yang damai.
    Cegahlah semua bibit kelemahan untuk menyertai mu dalam memasuki tahun yang masih bersih, segar, dan indah ini.

    Yakinilah,
    Bila engkau memulainya dengan kelemahan,
    engkau akan mengakhirinya dengan kekecewaan.

    Tahun ini sebetulnya sangat berserah kepada mu.
    Semangatnya adalah semangat mu,
    kekuatannya adalah kekuatan mu,
    dan keindahannya mengambil semua bahan pembentuknya dari keindahan hati mu.

    Wahai Hati Yang Mencari,
    Berserahlah …

    Tugas mu adalah melakukan yang terbaik dari yang bisa kau lakukan.
    Apa pun dampak dan hasil dari upaya mu, ada dalam kewenangan Tuhan mu.
    Bukan bakat mu, bukan kepandaian mu, dan bukan modal mu yang mengundang Beliau untuk menghadiahi mu dengan kemuliaan dan kelimpahan;

    tetapi
    kesungguhan mu untuk menatapkan sikap mu ke arah-arah kebaikan,
    kesungguhan mu untuk mencemerlangkan pikiran mu untuk menemukan pintu-pintu kebaikan,
    dan kesungguhan mu untuk menetapkan tindakan mu di jalan-jalan kebaikan.

    Tidakkah engkau memikirkan,
    bahwa

    Jalan-jalan kebaikan adalah jalan Tuhan.
    Dan bila engkau berjalan di jalan kebaikan,
    engkau berjalan bersama Tuhan.

    =Hati yang Mencary by Mario Teguh=

July 5, 2009 Posted by | daily-life, family, my favorite | Leave a Comment

Anak Bertanya kepada Bapak

Mendengarkan lagu ini …

    Ada anak bertanya pada bapaknya
    buat apa berlapar-lapar puasa
    Ada anak bertanya pada bapaknya
    tadarus tarawih apalah gunanya

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

    Lihatlah langit keanggunan yang indah
    membuka luas dan anginpun semerbak
    nafsu angkara terbelenggu dan lemah
    bunga ibadah dalam ikhlas sedekah

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

    Ada anak bertanya pada bapaknya
    buat apa berlapar-lapar puasa
    Ada anak bertanya pada bapaknya
    tadarus tarawih apalah gunanya

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

    Lihatlah langit keanggunan yang indah
    membuka luas dan anginpun semerbak
    nafsu angkara terbelenggu dan lemah
    bunga ibadah dalam ikhlas sedekah

    Lapar mengajarmu rendah hati selalu
    Tadarus artinya memahami kitab suci
    Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi

Membuatku berdoa dan mengharap agar bapak dari anak-anak kelak
bisa menjawab pertanyaan dan menjelaskan dengan sebijaknya; bagaimana memaknai dan menuntun kehidupan dengan bersandarkan pada ajaran yang telah diwariskan oleh Sang Suri Tauladan.
Dua pedoman hidup yang semakin dijauhi oleh kehidupan sekarang ini..

Puasa. Tadarus. Tarawih. Kumerindu Ramadhan yang penuh rahmat. Ramadhan yang penuh hikmah. Ya Allah ya Rahman ya Rahiim, mengapa begitu sulit untuk menjadi hamba yang istiqomah.

June 28, 2009 Posted by | daily-life, family, futuristic, spiritual call | Leave a Comment

Doing a Favor as an Honor

I have been thinking this over and over. I reflected this through my experiences. Once I remembered when my mom asked me for help, I said ‘yes’, but then I procrastinate doing things. Afterwords, she reminded me about ‘how much I have done things only for myself and not really help(think)what-others-doing’. She said it calmly but it felt so strong. I was speechless then. Somehow that’s really true.

When I was in kost especially. A hundred percent of my activity is only self-oriented. I did study, work, go to library, eat, finish my paper, sleep, clean my room, and so on..mostly for myself. Yes, I socialize with others, yes sometimes I help others, give charity, make others smile, make others happy. But mostly it’s only on my own interest. And I never truly mean it, feel it.

What my mom actually want to say (maybe) “Honey, please do favour for others sincerely.” Since then, I tried to contributed my best part for others. I TRIED to.. I have been trying to share my happiness with others, sharpen my empathy skills, and try to do favour for others as an honor.

June 28, 2009 Posted by | daily-life, family, futuristic, my favorite, social life | Leave a Comment

inspirasi dini hari

senin,15 juni 2009.
dini hari.ketika menuliskannya,jam laptopku menunjuk angka tiga;sembilan belas.

aku seharusnya menuntaskan paper.tapi aku bosan.akhirnya memutuskan berjalan2 di dunia maya.sendirian.seperti biasa.namun, aku bertemu banyak orang.aku mengamati banyak peristiwa.berdecak sejenak.bersyukur.berharap banyak tentang yang di depan kelak.tapi aku juga tidak melupakan peristiwa2 yang lalu.karena tiba2 ada bayangan lalu yang berkelebat.membuatku berfikir.dan juga merenung.entah mungkin kata2ku ini kurang bisa dipahami.tapi ini yang mengalir dari hati.

malam demi malam ini kulewati dengan mandiri.siklus harian terbalik seratus delapan puluh derajat.seakan waktu belahan dunia barat.aku masih terjaga.hingga dini hari.aktivitas di depan laptop.menulis.berpikir.membaca.merangkai kata.berpikir..bosan.aku butuh hiburan.dibukalah situs pertemanan yang bagaikan lorong waktu.melahap.merampas.sering mematikan produktifitas dan efektifitas kerjaku.benteng diri emang paling sulit dijaga.dan konsekuensinya kembali ke diri.situs pertemanan itu mengijinkanku menjamahi setiap pribadi yang mau terbuka untuk digerayangi profilnya.dan diamati aktivitasnya.aku ingin menyapa sahabat2 lamaku di manca.rasanya rindu rasanya pada mereka.yang sudah aku anggap keluarga.

yah.inspirasi ini muncul dari pengalamanku.inspirasi dari beberapa orang hebat yang pernah aku kenal.memori yang melekat dalam hati.ketika aku pernah dekat.tinggal seatap.pada mereka yang pernah menerimaku menjadi bagian dari hidup mereka.berharap bahwa kami sama2 akan belajar.

mereka yang pertama..perkenalan dan hari-hari awal yang luar biasa.ya, aku diterima.kami mulai berbagi.pada suatu sosok aku merasa sangat dekat.sosok yang lain aku masih merasa canggung.namun semuanya membuatku belajar banyak.lebih memahami.mementingkan komunikasi.sosok yang dekat.aku kagum.sering tersenyum.bahagia.sosok yang bijaksana.selalu terlindungi jika disampingnya.kami memiliki banyak kesamaan karakter.kami sama-sama suka berjalan.seringkali, diambil suatu waktu diakhir pekan, berjalan mengitari taman.menimati alam dan ciptaannya.dan berdiskusi tentang banyak hal.

akhir pekan adalah yang membahagiakan.selain itu,masih mendebarkan.namun,aku lebih dikenal.minggu ke bulan.aku semakin dikenal.aku sering tersenyum.menyapa.dan merasa diterima.aku bahagia di luar.kembali ke dalam.ada tiga hati yang harus lebih kuselami.sebenarnya empat.namun jarak telah memisahkan kami.kesempatan menjadi mahal harganya.namun sosok yang jauh,selalu aku damba.kagum padanya.cemerlang pikir dan cerahnya raut muka.memancarkan aura yang selalu mendamaikan hati.sejak awal,aku bisa merasakan itu.bahwa dia punya potensi.hidayah selalu kuharap datang menyelisik masuk ke bilik-bilik hatinya.

dari situs pertamanan itu pun kau tahu.sekarang dia telah merentas jalannya.aku belajar banyak pula dari sosok itu.tentang minat diri.kesungguhan.kecerdasan.kegigihan.dan selalu bisa dibanggakan.sekarang dia di tanah para nabi.mengartikan hieroglif tentang peradaban.teringat awal ketika sosok itu sungguh2 ingin belajar huruf dan bahasa yang tertulis dan hanya bisa terbaca dari kanan.dia selalu berdecak dan tertantang untuk mengadu tajam otak dengan asahan buku.minatnya adalah negara yang selalu tertindas dan terenggut dari tananya sendiri yang sangat suci.aku tetap kagum hingga sekarang.aku berdoa untuknya.

aku menemukannya berpose di depan makam firaun.namun sekarang dia berada di syiria.dimanapun dia..aku bangga.aku mulai berpikir kembali…

    *aku ingin melanjutkan ceritaku di suatu waktu lagi..
    paperku mengingatkan akan harga mati konsekuensi.sia-sia saja jika menuliskan inspirasi ini malah menenggelamkanku..sudahlah hari ini, harus kulalui.sebagai awal.aku harus selalu lebih baik lagi.belajar dari orang2 hebat.ingat aku harus menjadi kuat.dan aku akan membangun kekuatan mulai hari ini.aku ingin menjadi pemenang bagi perlawanan diriku sendiri.inspirasi dan mimpi.

June 14, 2009 Posted by | dan lain lan, family, friendship, futuristic, intercultural learning, spiritual call, travels | Leave a Comment

My Parents!! When Will I Pay You Back??

We cant choose from which parents we were born,
,from what kind of family we were raised up, and..
,from what economic statues and how wealth we were treated of..

But..
I am very glad to be born in the modest family,
to be born from my teacher parents.
(Both my parents are teacher. They are not only my parent, but also my teacher.)

We were just enough to living our happy life.
Enough.Yeah that’s it.
But I valued more than family wealth,
It’s about love, life-value, and a mind of sufficient.
I feel more than enough the way I am now, although
I know my parents have enough, but I feel more than that..
Yeah, more than enough..

I know every parent always do best and try harder to satisfy the children..
That is what I really appreciate.
We might understand that after being parents, then, in the future..

But the question that always come up to my mind was:
When will I pay them back? When will I satisfy them with the pride of achievement, support them financially, and please them heartily and genuinely??

    The fact right now:

I am a university student in one prestigious university in Indonesia. The university which is well-known as ‘kampus kerakyatan’ which I don’t fully believe in that tagline. As a consequences, this university promised to have a low tuition, but the fact is on the contrary side. I just feel that the tuition in my university is high. I think that it can be lower and should be reduced. Actually my university offered various scholarship, from many criteria. But I am not lucky enough yet. So, another reason (maybe) is because I never got a scholarship had offered to the students yet. I don’t know why. Perhaps other students more deserved to get it.

However, I realize that the education cost in my country is expensive indeed. That’s why I reflected on how much many my parents spent and try to not disappoint them.

April 27, 2009 Posted by | family, futuristic | 1 Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.