-Rahasia-
.. dalamnya LAUT dapat diduga,
dalamnya HATI siapa tahu…
Refleksi Perjuangan Mahasiswa dalam Ruang Hampa 1.39-3.15 a.m
Malam selarut ini aku masih terjaga. Semakin malam semakin sulit untuk memejamkan mata, bahkan otakku semakin lincah berpikir. Memikirkan segala sesuatu yang ‘random’. Entah itu tentang orang, tempat, kenangan, masa depan, kebodohan, dan sebagainya. Di sepertiga malam terakhir seperti ini harusnya aku bersimpuh di atas sajadah panjang terbentang, memohon ampun dan menceritakan segala harapan dan keinginan. Namun, aku justru berserah diri di depan laptop dan mencurahkan sebagian isi hati pada lembaran ini.
Sebelumnya, aku sengaja membuka buku ‘future sketch’ milikku. Di sana tersusun target dan poin-poin harapanku. Capaian-capaian yang ingin kuraih, dan batasan umur yang kubidik. Semua hanya rencana dan sifatnya fleksibel, untuk kontrol dan reminder diri. Banyak misteri yang belum tersikap. Dan semua itu dalam kendali kita, selain tentunya sang Sutradara Kehidupan.
Apakah Bijak,… Padahal…
Tiba-tiba aku teringat pesan bapak dalam sebuah sms singkat beliau beberapa bulan yang lalu. “Tapi ingat lo Nduk, prioritas utama tetep kuliah.” Ya Tuhan, aku jadi tersadar apakah selama ini aku sudah memprioritaskan kuliah. Aku sendiri tidak yakin. Di tengah beberapa kegiatan yang aku ikuti, kadang aku suka menomorduakan kuliah. Kadang orientasi prioritasku berubah-ubah tergantung suasana hati dan lingkungan. Dua faktor ini sangat mempengaruhi ‘rational choice’ yang aku buat. Kemudian aku berpikir, tujuan awalku ke Yogyakarta adalah untuk belajar (kuliah;red) di UGM. Selama masa kuliah inilah aku mencoba mencari pengalaman sebanyak mungkin. Namun, aku disadarkan bahwa statusku yang paling diakui di sini adalah sebagai mahasiswa, yakni untuk belajar, mencari ilmu pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai kehidupan, yang nantinya akan digunakan sebagai sumber kebijaksanaan dalam hidup.
Jadi puncak dari proses keilmuan adalah supaya manusia lebih bijaksana. Oleh karena itulah, ketika aku sudah terjebak dalam berbagai aktivitas, pertanyaan yang seharusnya muncul sebagai bahan pertimbangan adalah apakah bijak jika aku mengambil keputusan untuk melakukan x atau y, padahal bla-bla-bla. Misalnya, apakah bijak sebagai mahasiswa aku suka membolos kuliah, padahal orang tua di sana berpikir bahwa anaknya sedang mencari ilmu di UGM. Apakah bijak jika sebagai mahasiswa aku tidak mengusahakan yang terbaik dalam mengerjakan tugas, atau menyiapkan ujian, atau menulis skripsi, dan sebagainya, padahal orang tua sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal orang tua akan tersenyum bangga jika anaknya lulus dengan predikat terbaik, padahal orang tua akan bahagia jika anaknya bisa memperoleh pekerjaan yang layak dan lebih baik dari mereka. Dan masih banyak lagi pertanyaan dengan rumus : apakah bijak…, padahal…
Perjuangan Mahasiswa
Kemudian aku mencoba memperhatikan teman-teman di sekitarku. Kepada mereka yang masih menyandang status mahasiswa, ataukah belajar dari mereka yang sudah menanggalkan status kehormatan itu untuk mempersiapkan level kehidupan selanjutnya. Memang tipe-tipe mahasiswa sangat bervariasi layaknya karakter manusia yang juga beragam. Ada mereka yang aktif di organisasi, yang ulet berbisnis, yang tekun bekerja, yang giat berdakwah, yang hobi nge-mall, yang suka bergaul, dan sebagainya. Semua itu adalah pilihan. Dan masing-masing orang mempunyai alasan atas pilihannya tersebut.
Belajar dari berbagai tipe mahasiswa di atas, seringkali aku terpukau pada sosok-sosok di sekitarku yang sangat gigih dalam memperjuangkan visi-misinya. Dan pada mereka yang memegang teguh prinsipnya. Aku pernah mendengar perkataan teman “Perjuangan lebih penting daripada kehidupan”. Menurutku itu mengandung arti yang sangat dalam. Perjuangan bagi mereka yang menganut paham pragmatis, praktis, oportunis, pasti berbeda dengan perjuangan ‘pejuang sejati’ yang sangat menghayati proses perjuangan, dalam susah payahnya, dalam deras peluhnya, dengan ikhtiarnya, dalam tirakat-nya, dan semua yang dilakukan secara sungguh-sungguh.
Mario Teguh pernah berkata, pekerjaan yang paling sedikit saingannya adalah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kadang hal itulah yang membuat aku malu. Berapa persen kesungguhanku selama ini dan sebarapa gigih kah perjuanganku selama ini??! Menjadi mahasiswa memang selayaknya mengalami proses pembelajaran kehidupan, termasuk salah satunya pembelajaran dalam ‘field’ (major) yang kita pilih. Proses ini berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan kegiatan berkesinambungan yang mendukung proses tersebut, termasuk diantaranya aktivitas membaca, menulis, menganalisis, dan meneliti. Semua itu telah diajarkan sejak semester satu, dikaitkan dengan bidang keilmuan yang kita pilih.
Kebiasaan menjadi tuntunan: “bisa karena biasa”
Sebagai mahasiwa fakultas sosial dan politik, aktivitas membaca dan menulis merupakan suatu keharusan. Sayangnya kesempatan-kesempatan yang telah diberikan di ruang kelas kurang dimanfaatkan secara optimal. Misalnya saja tugas menulis critical review literature, menulis esai atau paper, diskusi, dsb. Seharusnya aku bisa berkembang melalui aktivitas-aktivitas tersebut. Namun jarang sekali aku benar-benar menghayatinya, memperjuangkan yang terbaik secara sungguh-sungguh, sehingga hasilnya ya seperti ini. Padahal seharusnya aku bisa memperoleh skill dan knowledge yang lebih paripurna dan lebih berdaya kuantum.
Membaca memang merupakan syarat utama. Subhanallah, dalam agama Islam, kita diingatkan bahwa perintah pertama umat manusia adalah membaca. Membaca dan membaca. Aku jadi malu sendiri jika keinginanku yang tinggi tidak diimbangi dengan kebiasaan yang mendukung. Keinginan untuk mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri misalnya seharusnya kuimbangi dengan kebiasaan membaca literature dan referensi lain yang akan mendukung perkembangan otakku. Tentunya kemampuan menulis ilmiah harus diasah sejak kini. Karena itu adalah modal studiku.
Kembali lagi, bapak pernah berpesan agar sejak saat ini aku harus mempersiapkan skripsi. Setidaknya mempunyai buku khusus untuk mencatat tema-tema atau note-note penting berkaitan dengan skripsi. Aku pernah sempat memilikinya namun nasibnya memprihatinkan karena sering diabaikan. Aku harus memulainya kembali. Kemudian, orang tuaku juga mengharapkan anak nomor satu mereka ini dapat melanjutkan studi tingkat lanjut. Sempat aku protes saat itu, “.., tapi kapan aku menikah?” Hehe. Ouh sungguh pertanyaan yang sangat masuk akal menurutku. Tapi kembali mereka meyakinkan, “Sudahlah, ada waktunya sendiri, nanti pasti ketemu, sudah ada jodohnya masing-masing, berdoa saja”. Ya baiklah pikirku dalam hati, ridho orang tua melebihi segalanya dan aku juga mengharapkan doa mereka supaya mendapatkan yang terbaik.
Mengenai studi lanjut S2, target beasiswa adalah suatu keharusan. Sangat memberatkan jika harus membiayainya sendiri atau tidak mungkin meminta lagi pada orang tua. Ataukah aku harus bekerja lebih dahulu, kadang itulah yang menjadi dilemma. Kerja dulu baru kuliah, ataukah kuliah dulu yang maksimal supaya memperoleh pekerjaan dengan standar yang lebih tinggi. Apapun itu nantinya tergantung situasi dan kondisi. Mungkin yang aku rencanakan saat ini akan berubah nantinya. Siapa tahu. Karena suatu kewajaran dalam diri manusia untuk berubah, pun dalam sepersekian detik sesuatu yang kita rencanakan bisa berubah.
Pilihan berkarir
Ini bukan perkara gender bias. Namun pressure antara laki-laki dan perempuan dalam kultur kita memang berbeda. Dari pengalaman dan observasi sekelilingku, laki-laki mempunyai beban dan pressure yang lebih besar dibanding perempuan. Mereka kadangkala ingin segera bekerja dan memilki penghasilan tetap karena faktor tanggung jawab dan tanggungan yang diamanahkan kepada mereka. Perempuan relative lebih santai dan tidak tertekan untuk segera bekerja. Memang semua itu tidak bisa digeneralisasi namun keadaan ad hoc masih menunjukkan tren yang sama.
Perempuan juga terbatasi ruang gerak tertentu jika ingin berkarir. Naluri dan kodrati alamiah perempuan sebagai calon ibu juga sangat mempengaruhi. Ada kalanya perempuan harus berhenti atau cuti. Bagiku hal itu bukanlah penghalang. Walaupun di suatu masa pernah perdebatan tentang pilihan karir menjadi penghalang dalam satu hubungan. Namun semakin ke sini, kedewasaan berpikir akan semakin berkembang, perubahan pun juga bukan sebuah keniscayaan.
Para mahasiswi harus sadar bahwa proses-proses yang berlangsung selama ini akan mempengaruhi hasil di masa mendatang. Ilmu, pelajaran, pembangunan karakter, dan pengalaman yang telah kita dapatkan selama ini pada dasarnya adalah modal untuk membangun generasi yang lebih baik dan lebih luhur ke depan. Semua yang kita lakukan pasti tetap ada manfaatnya, jikalaupun nantinya kita tidak mendapat kedudukan atau pekerjaan sesuai dengan yang telah kita perjuangkan dalam proses tersebut. Namun semua pasti bermanfaat dan harus kita manfaatkan secara bijaksana untuk mendidik calon generasi penerus bangsa.
Konklusi
Merajut masa depan harus dimulai saat ini. Perjuangan untuk menjadi mahasiswa sejati-yang sungguh-sungguh dalam menggapai visi-misi harus sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kita bina sejak dini. Menjadi mahasiswa harus progressive dalam meraih mimpi. Namun hal itu tidak cukup dinilai dengan indikator keberhasilan atau kesuksesan yang kita capai namun pada tingkat kebijaksanaan yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan.
Masa depan adalah misteri. Apapun pilihan masa depan kita, keyakinan akan pilihan-pilihan yang kita ambil pasti mempunyai pertimbangan alasan-alasan dan dapat kita pertanggungjawabkan nantinya, untuk diri sendiri, orang-orang yang kita cintai, lingkungan kita, dan di hadapan sang Khaliq, Mahadaya segala-galanya.
Menjelang 1 November 2009
Indahnya Berbagi
Menulis lagi.
Kukumpulkan semangat untuk menguraikan kata-kata yang bergumul dalam otakku. Paling tidak motivasiku tulus untuk berbagi, melontarkan opini, atau mungkin sekedar curhat masalah pribadi. Apapun itu kuniatkan ‘lillahi ta’ala’. Pada malam terang benderang tatkala sinar bulan sabit serasa teduh menerangi jiwaku, ada perasaan bahagia yang mewarnai beberapa hari terakhirku. Rasa yang secara emosional dan rasional sangat beralasan. Dan kembali, kucoba untuk menetralisir semua dengan focus pada prioritas dan kewajiban.
Beralasan di atas paling tidak bisa kurangkumkan dalam beberapa frasa. Rasa syukur. Ketentraman jiwa. Ridho orang tua. Keberkahan Allah. Ketulusan kasih sayang. Semua frasa di atas sangat mendamaikan diri dan bisa mengobati hati ketika kegelisahan itu muncul.
Mencari dan mengagumi.
Dua aktivitas yang membutuhkan energi. Energi itulah jua yang menggerakkanku untuk menulis lagi dalam blog ini. Hari ini, hari ketiga mid semester. Ujian yang lebih kumaknai sebagai evaluasi diri. Evaluasi dan refleksi diri sebagai mahasiswa HI. Yah, sampai semester lima ini, aku masih mencari apa esensi dari perkuliahan selama ini. (Telat yaa??)
Aktivitas akademis di bangku kuliah yang kadang kurasa sangat ‘absurd’. Absurditas bagiku adalah purely karena tidak optimalnya status mahasiswa yang kusandang. Mahasiswa yang secara etimologis melebihi siswa, seharusnya tuntutan untuk lebih menggiatkan aktivitas intelegensia itu semakin diasah. Namun kenyataanya tetap banyak rentetan alasan yang membuatku sering bergumam, “jika terus seperti ini aku tidak lebih baik dari siswa di bangku sma.”
Secara akademis, dengan jiwa besar aku mengakui bahwa progress intelegensiku kurasakan tidak lebih dari fase sebelumnya. Namun ada yang perlu disyukuri tatkala saat sekarang banyak kesempatan, pengalaman, dan tamparan yang semakin keras justru mengukuhkan semangatku untuk mengukir masa depan. Di bangku perkuliahan inilah awalnya aku mulai mencari penghidupanku sendiri, mengisi kas-kas pribadiku sendiri, dari pengalaman mengajar les, sampai pengalaman kerja part time yang telah mengenalkanku pada aspek-aspek yang belum kupahami sebelumnya. Dipaksa masuk dalam suatu sistem rigid struktural yang kadang menyenangkan dan di lain waktu menguras tenaga dan pikiran.
Dari kegagalan ke kegagalan, kugenggam erat sebuah harapan. Keinginan untuk mendapatkan beasiswa, akhirnya bisa teralisir pada semester ini. jika sebelumnya selalu terganjal status kelayakan dan birokratis praktis yang tidak efektif. Mungkin memang sekarang inilah waktunya. Dan aku memamg layak.
Tetap satu yang kuyakini, ada yang mengatur aliran rezeki kita, asalkan kita tidak hanya berpangku tangan. Dan janji sang Sutradara Kehidupan bahwa akan dibukakan jalan keluar dan rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangkakan, bagi mereka yang mengimaninya, memang benar. Oleh karena itulah aku megimani itu.
Tentang kekaguman dan kasih sayang
Setiap orang pasti menyukai keindahan. Apalagi keindahan yang terbalut dengan kesehajaan yang memikat perasaan. Magnetisme keindahan memang sangat subjektif. Dan dari sifat dasar keindahan yang sangat menyenangkan inilah akan muncul aura positif jika tersalurkan dengan menggunakan energy positif melalui cara yang arif. Lewat proses itulah keindahan akan membawa efek yang menenangkan dan meneduhkan. Mengagumi keindahan adalah sebuah apresiasi sejati dalam menikmati masterpiece kehidupan.
Mengasihi dan menyayangi memiliki makna yang tinggi dalam hubungan intrapersonal umat manusia. Tak ada alasan dan syarat untuk membagi rasa kasih dan sayang. Namun sayang sekali, kadang kasih dan sayang bisa duduk sejajar dengan kepentingan. Kepentingan apa pun itu yang menafikkan hakikat ketulusan. Tulus memang sangat pelik untuk didefinisikan, karena menyangkut ‘feel’ atau ‘rasa’ yang sangat sulit untuk diraba. Kadang juga sangat manipulative dan terlihat ilusif karena daya jamah manusia yang terbatas pada tataran empiris.
Berbagi adalah mekanisme penyaluran kasih sayang yang sederhana, namun sangat berharga. Maka dari itulah, aku sangat menghargai dan mengagumi pada mereka yang tulus berbagi. Terutama berbagi kebaikan yang mempunyai efek membaikkan. Ada kalanya kita memiliki ruang pribadi yang kita batasi agar orang lain berhenti dan tidak bisa melampaui. Namun ada kalanya kita patut berbagi.
Sangat indah, jika kita mempunyai hal yang dapat kita bagi dengan orang lain. Berbagi memberikan sensasi yang berlipat ganda dibanding dengan efek ketika kita menikmatinya sendirian. Hal-hal tertentu inilah yang patut kita renungkan dan resapi. Manakah yang layak dibagi, manakah yang harus kita simpan sendiri, di ruang pribadi. Ataukah kapan kita harus berbagi dan kapan kita harus meresapinya sendiri.
Kamar Kos4 Swa7A,
Rabu, 281009, 22;57
Bunga dalam Tidurku
![]()
Tidur nyenyak dan berbunga indah. Harapan itulah yang sering ku-amini sebelum memejamkan mata. Seakan-akan menjadi doa dalam hati yang kupanjatkan sebelum tidur. Walaupun begitu, ku mencoba tak lupa dengan rutinitas-doa wajib yang telah diajarkan sejak SD (Bahkan mungkin sejak aku belajar berbicara hingga bisa berbicara) “Bismikallahu humma ahya wa bismika amuuuut” ( Dengan namama-Mu aku tidur ya Allah yang Maha Menghidupkan dan Maha Mematikan.)
Lantas, seiring bertambahnya usia, dan kebutuhan untuk meningkatkan kekuatan spiritualitas diri, banyak petuah dan nasehat yang mengajarkanku untuk banyak membaca istighfar dan surat pendek sebelum tidur. Kadang. Kalau sedang insyaf dan sadar, seringkali kupraktikan. Namun kebanyakan lalai dan tertidur tanpa sadar karena penat dengan padatnya aktivitas seharian. Sehingga memejamkan mata dan langsung terbuai dalam semaian bunga tidur adalah hal yang sangat menggiurkan.
Bunga tidur seolah menjadi teman baikku. Bunga tidur adalah impianku. Dan memang mimpi itulah yang sering kunantikan. Dalam tidurku, bunga tidur yang merupakan teman baikku selalu setia mengajakku bermain, berpetualang, bersenandung dan menikmati lika-liku alam bawah sadarku. Yah, inilah keagungan Tuhan yang menggenggam jiwa (dan roh) hamba-hambanya. Kemudian, ditariklah nafas kehidupan kita tatkala terlelap dan kemudian dihembuskan kembali kepada hamba-hamba yang dikehendakinya. Sungguh sebuah petunjuk bagi hamba-hambanya yang mau berfikir.
Bunga tidurku selalu kupelihara dengan baik, agar tumbuh subur dan tidak layu. Kupupuk dengan doa sebelum tidur. Kusirami dengan tekad dan harapan agar ‘hari esok lebih baik dari hari ini’. Kupagari dengan bacaan istighfar dan ‘audzubillah hi minassyaithon nirrajiim’. Lantas mulailah kutanam benih harapan agar alam bawah sadarku bisa bersahabat malam ini dan mengajakku bertemu dengan orang-orang terbaik yang pernah kukenal dan mungkin orang-orang yang masih samar kuraba bayang wajahnya namun nantinya akan kukenal. Dengan mereka inilah kujalani dan kuikuti jalan cerita yang masih menjadi misteri.
Inilah yang menarik. Inilah yang selalu kutunggu. Selalau mendebarkan dan penuh kejutan. Bunga tidurku seringkali kujadikan isyarat. Bukan ahli nujum bukan ahli mimpi. Namun selama ini aku meyakini. Bukan syirik bukan bid’ah. Bukan pula masalah hukum halal haram. Namun aku membaca tanda-tanda yang kuyakini adalah misteri. Dan masih hingga kini menjadi misteri.
Aku mempelajari sedikit. Dan telah bisa membaca. Sedikit. Namun dari sedikit tanda-tanda itu aku bisa mengantisipasi atau mengambil hikmah yang penuh hikmat. Bunga dalam tidurku selalu mengisyaratkan sesuatu. Paling tidak itulah yang selama ini aku alami selama sekitar dua puluh tahun kehidupanku. Mungkin juga tidak selama itu. Namun semenjak aku bisa menangkap adanya tanda-tanda dalam mimpiku. Selanjutnya, aku selalu tertarik untuk membaca tanda-tanda itu.
Sebelum memejamkan mata aku akan terus berdoa dan berharap …
Bertemu mereka-mereka yang terbaik, yang mengajarkanku hal-hal yang terbaik, di tempat-tempat yang terbaik, agar bisa belajar menjadi yang terbaik. Walaupun belajar hanya dari alam bawah sadarku.
** to be continued…
H.O.M.E.

no other places like home.it’s holiday time-summer break. i am supposed to be at home. spend my days with family. but the fact, i am still here. staying in kost. in the usual place where i used to study. i survived here. i have decided to choose this way. so no need to regret. like my mom said that life is full options. so i have to do my best on what i have chosen. there must be wisdoms on it.
this semester. many things to be grateful. thanks God for everything since the beginning of semester. first time i played like ‘nothing to loose’. at that time my principle was ‘if things still on my fortune, i will get and not loose it.’ i almost gave up then. but God made other scenarios. He sent me big helper. i learnt alot from this human being. he helped me a whole alot. sincerely. he just deliver one messages : that is ask me to learn to be a useful and meaningful person for others. flew to Europe and valued the atmosphere-living there are still on my fortune.
back to routines. back to my homecountry. i didn’t want to left-behind. so little by little i tried to catch up with my studies in university. kinda hard. because i still had the euphoria of europe. my mind are still in trondheim, norway. my brain couldn’t think anything else beside memorizing the moments in denmark and france. but, the experience in isfit taught me alot that i had to be better and dream BIG. so, that i can make a change, make a difference, not only in my society but also in this world. many great people on that events inspired me alot that youth is the future leader. so open my eyes bigger from that moment on.
GPA this semester. i dont know yet. but from the temporary result, i am relieved. five of eight subject. i got almost straight A’s. God, that’s more than i expected. although still so risky. because the rest of my grades may downgrade my GPA. but at least, i am secured from the worst-prediction i had before. big thanks to God and my lecturer. grade makes me so happy somehow.
making money. i am thanksful that i had new job. a part-time job. so far i tried to enjoy my job. i learned alot thou’. i have to take advantage of this oportunity. somehow feel lucky. some other-how feel bad. what i loved most is the positive-atmosphere of young people spirit, worthed experiences, and non-stop learning. i am a new staff. so, i learned from the basic. surprisingly, i got big responsibility. should i be grateful or should i be regreted. it really examined my work-quality, leadership-skill, and others capabilities. it’s a challange. a big challange for the new beginner. OMG. i have to deal with it. i need big supports. i have to be STRONG. yeah, also, i have to sacrifice things if i want to gain other things.
i sacrificed things. my time to have internship in deplu. my time to have a long vacation. my time with my beloved family in my hometown. so, i have to succeed on my decision and my responsibility. but whenever i start focusing on the project. my mind flew at home. i dont know why. just home.home.and home. keep echoing on my head. so like usual, when i feel weak and fragile, i always try to improve my spiritual-quality. i need to. i had to ask more. more. big help to make a great scenarios. so for asking BIG, i have to do BIG first.
HOME. i need to go home before d-day of presidential election. i need to search on inspirations and fill my positif energy at home.
i found this motivational chain of words.
-
Wahai Hati Yang Mencari,
ini yang aku undangkan kepada mu, bahwa
Masa yang baru ini harus kau masuki dengan kekuatan yang damai.
Cegahlah semua bibit kelemahan untuk menyertai mu dalam memasuki tahun yang masih bersih, segar, dan indah ini.
Yakinilah,
Bila engkau memulainya dengan kelemahan,
engkau akan mengakhirinya dengan kekecewaan.
Tahun ini sebetulnya sangat berserah kepada mu.
Semangatnya adalah semangat mu,
kekuatannya adalah kekuatan mu,
dan keindahannya mengambil semua bahan pembentuknya dari keindahan hati mu.
Wahai Hati Yang Mencari,
Berserahlah …
Tugas mu adalah melakukan yang terbaik dari yang bisa kau lakukan.
Apa pun dampak dan hasil dari upaya mu, ada dalam kewenangan Tuhan mu.
Bukan bakat mu, bukan kepandaian mu, dan bukan modal mu yang mengundang Beliau untuk menghadiahi mu dengan kemuliaan dan kelimpahan;
tetapi
kesungguhan mu untuk menatapkan sikap mu ke arah-arah kebaikan,
kesungguhan mu untuk mencemerlangkan pikiran mu untuk menemukan pintu-pintu kebaikan,
dan kesungguhan mu untuk menetapkan tindakan mu di jalan-jalan kebaikan.
Tidakkah engkau memikirkan,
bahwa
Jalan-jalan kebaikan adalah jalan Tuhan.
Dan bila engkau berjalan di jalan kebaikan,
engkau berjalan bersama Tuhan.
=Hati yang Mencary by Mario Teguh=
time and age for the sake of future
i got some inspirations these days. i had been thinking of the future, had already drawn my own-long-visionary-goal and kept it on the ‘black-box’ of mind. just the perfect moment to have a partner to talk with and shared values about things, dreams and expectation, so on, merely about the future. so i would contemplated on this kind of exchange-ideas and values-sharing.

every age has its own victory. maaann!!!
in responding the future; we indeed need plans and strategy. no need to worries. i myself believed that “man purpose and God dispose”. in all my life until now i trust myself and more trust in God’s planning. as human being, it’s part of my effort to work hard, pray hard, and play hard. then, after all we did. just be positive thinking while keep praying that our future is just nearest to us and dream are about to reach.
future is abstract. talking about the future is still mystery. as i said before, human only can sketch the future view. God dispose and will do the rest of our planning. where and how i stand and had stood right now is also part of what i dremt on the previous stage of age. e.g. when i was on the middle school. i remembered dreaming of going school in Yogyakarta. one reason that motivated me was the Kla Project song – Yogyakarta. my ensamble music group played and arranged that song in my music and art class. it was just memorable. after that, i just wished to study there someday. and now, yeah, i am studying here, in my dreaming city when i was in the middle school.
other examples. my mom once told me that she inspired of her student who experienced study abroad when she was in high school. then, she wished and prayed for her daughter to have that kind of experiences. and the fact, i did it. thanks God i passed a long selection of an exchange year program. i studied abroad in the United States for a year. on the past, i also wanted to go to Europe, go to Paris, have pictures taken in the Eiffel Tower, and so on. surprisingly i had experienced what i dreamt on the past. so, nothing is impossible. all is possible-if we trust ourself and off course God. for sure, we will go through pathways to our future.
the common problem is regret always comes late. life is so short. imagine, how old are you now. do you realize that you already reach certain age. although it still feels strongly clear how your childhood or teenhood memories hanging arround on your brain. yeah, actually it remind me about the verses in the Quran; Al ‘ Alshr..
by the the time of the afternoon/
surely, human is (in state of) loss/
except those who believe and do good works, charge one another with the truth, and charge one another with patience//
pathetic human being. basically human is in the state of loss. the exception is for those who mentioned above. i also try to reflect on this verses below. it stated that only to God we surrender.

be grateful that I am now still on my best condition. thanks God that i am fortunate enough to still breath this fresh air, means that i am alive. ‘five things before five things’ is really true. we should take advantage of those five things before the five things came.
“your youth, before you become old;
your health, before you fall sick;
your richness, before you become poor;
your free time before you become busy;
your life, before your death.”
God gave us more than anything on this world. even, when we didnt ask for something else yet, He already gave us things. He, the One who love us unconditionally. i am also sure he knew what is the best for me. now, in my age, i am very grateful with what i have and have gotten. i am still on my ‘jihad’. jihad doesnt merely ascociated with terrorism, extrimist, and fundamentalist movement. the original meaning of jihad is doing something hard, seriously, with all my heart and energy. working hard to reach my dream. working and praying hard for making my parents proud and happy is also my jihad.
optimistics and positive thinking. yes, i have to. targetting the future as high as possible. skecthing as beautiful as i can draw. the best effort i do, then let God do the rest. in God, i trully trust.
weekend and poem
unpredictably surprissing week. many things happens, comes, and goes. not knowing the reason yet. but i do really believe that it’s part of destiny. this week, i had faced dilemma. and i had to pick one option. it’s hard. every options has its own consequences. cost and benefit consideration is not enough to decide which the right one to pick. but on the end, i had to sacrifice the other thing. ehmm, life is always on the matter of choice. and there must be something to sacrifice.
this weekend, i read a book and found an interesting poem about “LOVE”. and i just loved it.
-
God..
when i find joy in a friend
remind me that there would be an end
so i stay with the One who has no end
God…
when i am hungry for someone love
find me the one who longs for Endless love
so my longing to You is growing strong
God…
if i should fall in love with someone
find me the one who loves You, the One
so i am getting stronger in loving You, the Only One
God…
when i am falling in love
keep the love
not to exceed my love to You
God..
when i say “i love you”
make me do it to whose heart get captivated in You
so i never fall in love aside from the name of You
as what wise people say…
to love someone is nothing
to be loved by someone is something
to be loved by someone you love is exciting
but to be loved by The Lover is everything
(by Wiwit-September 2003 from the book “Tafakur; Gado-Gado Simpang Lima” Muhammad Agung Wibowo)
Anak Bertanya kepada Bapak
Mendengarkan lagu ini …
-
Ada anak bertanya pada bapaknya
buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
tadarus tarawih apalah gunanya
Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi
Lihatlah langit keanggunan yang indah
membuka luas dan anginpun semerbak
nafsu angkara terbelenggu dan lemah
bunga ibadah dalam ikhlas sedekah
Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi
Ada anak bertanya pada bapaknya
buat apa berlapar-lapar puasa
Ada anak bertanya pada bapaknya
tadarus tarawih apalah gunanya
Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi
Lihatlah langit keanggunan yang indah
membuka luas dan anginpun semerbak
nafsu angkara terbelenggu dan lemah
bunga ibadah dalam ikhlas sedekah
Lapar mengajarmu rendah hati selalu
Tadarus artinya memahami kitab suci
Tarawih mendekatkan diri pada Ilahi
Membuatku berdoa dan mengharap agar bapak dari anak-anak kelak
bisa menjawab pertanyaan dan menjelaskan dengan sebijaknya; bagaimana memaknai dan menuntun kehidupan dengan bersandarkan pada ajaran yang telah diwariskan oleh Sang Suri Tauladan.
Dua pedoman hidup yang semakin dijauhi oleh kehidupan sekarang ini..
Puasa. Tadarus. Tarawih. Kumerindu Ramadhan yang penuh rahmat. Ramadhan yang penuh hikmah. Ya Allah ya Rahman ya Rahiim, mengapa begitu sulit untuk menjadi hamba yang istiqomah.
Doing a Favor as an Honor
I have been thinking this over and over. I reflected this through my experiences. Once I remembered when my mom asked me for help, I said ‘yes’, but then I procrastinate doing things. Afterwords, she reminded me about ‘how much I have done things only for myself and not really help(think)what-others-doing’. She said it calmly but it felt so strong. I was speechless then. Somehow that’s really true.
When I was in kost especially. A hundred percent of my activity is only self-oriented. I did study, work, go to library, eat, finish my paper, sleep, clean my room, and so on..mostly for myself. Yes, I socialize with others, yes sometimes I help others, give charity, make others smile, make others happy. But mostly it’s only on my own interest. And I never truly mean it, feel it.
What my mom actually want to say (maybe) “Honey, please do favour for others sincerely.” Since then, I tried to contributed my best part for others. I TRIED to.. I have been trying to share my happiness with others, sharpen my empathy skills, and try to do favour for others as an honor.
bergelut dengan malam..
terjadi lagi.hampir setiap hari dalam minggu ini.siklus harian yang terbalik.tapi aku mulai menikmati itu.belum kupertanyakan pula bagaimana efeknya bagi kesehatan.namun mencoba kuresapi kembali.mungkin inilah saat yang tepat menarik benang hikmah yang selalu ada di setiap peristiwa.mungkin juga ini bisa menjadi strategi jitu jika dilakukan secara kontinu dan bermutu.
malam memberikan waktu luang untuk berfikir.menyisakan tempat yang lapang untuk bercakap dengan kesendirian.kadang butuh waktu memperhatikan sekitar ketika kesenyapan menjadi sangat bermakna.suara-suara yang sering terabaikan menjadi melodi indah yang menemani.ternyata, banyak makhluk di luar sana yang memaknai kehidupannya lewat malam.
minggu yang mengenalkanku dengan angin malam.bergelut dengan malam.bergelut dengan tekanan. aku memaknainya. aku punya teman baru sekarang. seolah aku menjadi raja dan pemenang. ketika malam bisa ditaklukan dan bertahan sampai pagi dengan sebuah hasil yang membanggakan.senyuman dan kepuasan.kemenangan diri.
namun tetap saja da konsekuensi.siklus yang terbalik memberikan sebuah konsekuensi.karena pada dasarnya manusia mempunyai batas ketahanan sendiri2.bergelut dengan malam memberikan sebuah kesadaran akan batas kekuatan diri.
masih bergelut dengan malam.aku mencoba menikmati sebuah proses..kadang kurang diresapi karena hasil yang menggiurkan selalu menjadi godaan.proses dan kontinuitas memberikan kekuatan yang berbeda pada hasil.kadang instan juga dibutuhkan.namun, instan harus bertarung dengan ketahanan..
bergelut dengan malamku ini adalah instan.karena tekanan.tapi aku belajar tentang ketahanan. juga sebuah proses yang ternyata akan melahirkan sebuah ketenangan. instan bergelut dengan malam, aku tak tenang.karena harga mati konsekuensi tidak bisa ditawar lagi.
diri sendiri dan waktu yang bergelut malam ini. dan diriku sendiri telah tertawan oleh waktu. bergelut dengan malam hingga dini hari. tiga;tiga sembilan.aku masih bertahan dalam tawanan.
