My Life Framing

.::empowering readers with my life inspiration::.

Refleksi Perjuangan Mahasiswa dalam Ruang Hampa 1.39-3.15 a.m

Malam selarut ini aku masih terjaga. Semakin malam semakin sulit untuk memejamkan mata, bahkan otakku semakin lincah berpikir. Memikirkan segala sesuatu yang ‘random’. Entah itu tentang orang, tempat, kenangan, masa depan, kebodohan, dan sebagainya. Di sepertiga malam terakhir seperti ini harusnya aku bersimpuh di atas sajadah panjang terbentang, memohon ampun dan menceritakan segala harapan dan keinginan. Namun, aku justru berserah diri di depan laptop dan mencurahkan sebagian isi hati pada lembaran ini.

Sebelumnya, aku sengaja membuka buku ‘future sketch’ milikku. Di sana tersusun target dan poin-poin harapanku. Capaian-capaian yang ingin kuraih, dan batasan umur yang kubidik. Semua hanya rencana dan sifatnya fleksibel, untuk kontrol dan reminder diri. Banyak misteri yang belum tersikap. Dan semua itu dalam kendali kita, selain tentunya sang Sutradara Kehidupan.

Apakah Bijak,… Padahal…
Tiba-tiba aku teringat pesan bapak dalam sebuah sms singkat beliau beberapa bulan yang lalu. “Tapi ingat lo Nduk, prioritas utama tetep kuliah.” Ya Tuhan, aku jadi tersadar apakah selama ini aku sudah memprioritaskan kuliah. Aku sendiri tidak yakin. Di tengah beberapa kegiatan yang aku ikuti, kadang aku suka menomorduakan kuliah. Kadang orientasi prioritasku berubah-ubah tergantung suasana hati dan lingkungan. Dua faktor ini sangat mempengaruhi ‘rational choice’ yang aku buat. Kemudian aku berpikir, tujuan awalku ke Yogyakarta adalah untuk belajar (kuliah;red) di UGM. Selama masa kuliah inilah aku mencoba mencari pengalaman sebanyak mungkin. Namun, aku disadarkan bahwa statusku yang paling diakui di sini adalah sebagai mahasiswa, yakni untuk belajar, mencari ilmu pengetahuan, pengalaman, nilai-nilai kehidupan, yang nantinya akan digunakan sebagai sumber kebijaksanaan dalam hidup.

Jadi puncak dari proses keilmuan adalah supaya manusia lebih bijaksana. Oleh karena itulah, ketika aku sudah terjebak dalam berbagai aktivitas, pertanyaan yang seharusnya muncul sebagai bahan pertimbangan adalah apakah bijak jika aku mengambil keputusan untuk melakukan x atau y, padahal bla-bla-bla. Misalnya, apakah bijak sebagai mahasiswa aku suka membolos kuliah, padahal orang tua di sana berpikir bahwa anaknya sedang mencari ilmu di UGM. Apakah bijak jika sebagai mahasiswa aku tidak mengusahakan yang terbaik dalam mengerjakan tugas, atau menyiapkan ujian, atau menulis skripsi, dan sebagainya, padahal orang tua sudah mengeluarkan biaya yang tidak sedikit, padahal orang tua akan tersenyum bangga jika anaknya lulus dengan predikat terbaik, padahal orang tua akan bahagia jika anaknya bisa memperoleh pekerjaan yang layak dan lebih baik dari mereka. Dan masih banyak lagi pertanyaan dengan rumus : apakah bijak…, padahal…

Perjuangan Mahasiswa
Kemudian aku mencoba memperhatikan teman-teman di sekitarku. Kepada mereka yang masih menyandang status mahasiswa, ataukah belajar dari mereka yang sudah menanggalkan status kehormatan itu untuk mempersiapkan level kehidupan selanjutnya. Memang tipe-tipe mahasiswa sangat bervariasi layaknya karakter manusia yang juga beragam. Ada mereka yang aktif di organisasi, yang ulet berbisnis, yang tekun bekerja, yang giat berdakwah, yang hobi nge-mall, yang suka bergaul, dan sebagainya. Semua itu adalah pilihan. Dan masing-masing orang mempunyai alasan atas pilihannya tersebut.

Belajar dari berbagai tipe mahasiswa di atas, seringkali aku terpukau pada sosok-sosok di sekitarku yang sangat gigih dalam memperjuangkan visi-misinya. Dan pada mereka yang memegang teguh prinsipnya. Aku pernah mendengar perkataan teman “Perjuangan lebih penting daripada kehidupan”. Menurutku itu mengandung arti yang sangat dalam. Perjuangan bagi mereka yang menganut paham pragmatis, praktis, oportunis, pasti berbeda dengan perjuangan ‘pejuang sejati’ yang sangat menghayati proses perjuangan, dalam susah payahnya, dalam deras peluhnya, dengan ikhtiarnya, dalam tirakat-nya, dan semua yang dilakukan secara sungguh-sungguh.

Mario Teguh pernah berkata, pekerjaan yang paling sedikit saingannya adalah pekerjaan yang dilakukan dengan sungguh-sungguh. Kadang hal itulah yang membuat aku malu. Berapa persen kesungguhanku selama ini dan sebarapa gigih kah perjuanganku selama ini??! Menjadi mahasiswa memang selayaknya mengalami proses pembelajaran kehidupan, termasuk salah satunya pembelajaran dalam ‘field’ (major) yang kita pilih. Proses ini berlangsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas dan kegiatan berkesinambungan yang mendukung proses tersebut, termasuk diantaranya aktivitas membaca, menulis, menganalisis, dan meneliti. Semua itu telah diajarkan sejak semester satu, dikaitkan dengan bidang keilmuan yang kita pilih.

Kebiasaan menjadi tuntunan: “bisa karena biasa”
Sebagai mahasiwa fakultas sosial dan politik, aktivitas membaca dan menulis merupakan suatu keharusan. Sayangnya kesempatan-kesempatan yang telah diberikan di ruang kelas kurang dimanfaatkan secara optimal. Misalnya saja tugas menulis critical review literature, menulis esai atau paper, diskusi, dsb. Seharusnya aku bisa berkembang melalui aktivitas-aktivitas tersebut. Namun jarang sekali aku benar-benar menghayatinya, memperjuangkan yang terbaik secara sungguh-sungguh, sehingga hasilnya ya seperti ini. Padahal seharusnya aku bisa memperoleh skill dan knowledge yang lebih paripurna dan lebih berdaya kuantum.

Membaca memang merupakan syarat utama. Subhanallah, dalam agama Islam, kita diingatkan bahwa perintah pertama umat manusia adalah membaca. Membaca dan membaca. Aku jadi malu sendiri jika keinginanku yang tinggi tidak diimbangi dengan kebiasaan yang mendukung. Keinginan untuk mendapatkan beasiswa S2 di luar negeri misalnya seharusnya kuimbangi dengan kebiasaan membaca literature dan referensi lain yang akan mendukung perkembangan otakku. Tentunya kemampuan menulis ilmiah harus diasah sejak kini. Karena itu adalah modal studiku.

Kembali lagi, bapak pernah berpesan agar sejak saat ini aku harus mempersiapkan skripsi. Setidaknya mempunyai buku khusus untuk mencatat tema-tema atau note-note penting berkaitan dengan skripsi. Aku pernah sempat memilikinya namun nasibnya memprihatinkan karena sering diabaikan. Aku harus memulainya kembali. Kemudian, orang tuaku juga mengharapkan anak nomor satu mereka ini dapat melanjutkan studi tingkat lanjut. Sempat aku protes saat itu, “.., tapi kapan aku menikah?” Hehe. Ouh sungguh pertanyaan yang sangat masuk akal menurutku. Tapi kembali mereka meyakinkan, “Sudahlah, ada waktunya sendiri, nanti pasti ketemu, sudah ada jodohnya masing-masing, berdoa saja”. Ya baiklah pikirku dalam hati, ridho orang tua melebihi segalanya dan aku juga mengharapkan doa mereka supaya mendapatkan yang terbaik.

Mengenai studi lanjut S2, target beasiswa adalah suatu keharusan. Sangat memberatkan jika harus membiayainya sendiri atau tidak mungkin meminta lagi pada orang tua. Ataukah aku harus bekerja lebih dahulu, kadang itulah yang menjadi dilemma. Kerja dulu baru kuliah, ataukah kuliah dulu yang maksimal supaya memperoleh pekerjaan dengan standar yang lebih tinggi. Apapun itu nantinya tergantung situasi dan kondisi. Mungkin yang aku rencanakan saat ini akan berubah nantinya. Siapa tahu. Karena suatu kewajaran dalam diri manusia untuk berubah, pun dalam sepersekian detik sesuatu yang kita rencanakan bisa berubah.

Pilihan berkarir
Ini bukan perkara gender bias. Namun pressure antara laki-laki dan perempuan dalam kultur kita memang berbeda. Dari pengalaman dan observasi sekelilingku, laki-laki mempunyai beban dan pressure yang lebih besar dibanding perempuan. Mereka kadangkala ingin segera bekerja dan memilki penghasilan tetap karena faktor tanggung jawab dan tanggungan yang diamanahkan kepada mereka. Perempuan relative lebih santai dan tidak tertekan untuk segera bekerja. Memang semua itu tidak bisa digeneralisasi namun keadaan ad hoc masih menunjukkan tren yang sama.

Perempuan juga terbatasi ruang gerak tertentu jika ingin berkarir. Naluri dan kodrati alamiah perempuan sebagai calon ibu juga sangat mempengaruhi. Ada kalanya perempuan harus berhenti atau cuti. Bagiku hal itu bukanlah penghalang. Walaupun di suatu masa pernah perdebatan tentang pilihan karir menjadi penghalang dalam satu hubungan. Namun semakin ke sini, kedewasaan berpikir akan semakin berkembang, perubahan pun juga bukan sebuah keniscayaan.

Para mahasiswi harus sadar bahwa proses-proses yang berlangsung selama ini akan mempengaruhi hasil di masa mendatang. Ilmu, pelajaran, pembangunan karakter, dan pengalaman yang telah kita dapatkan selama ini pada dasarnya adalah modal untuk membangun generasi yang lebih baik dan lebih luhur ke depan. Semua yang kita lakukan pasti tetap ada manfaatnya, jikalaupun nantinya kita tidak mendapat kedudukan atau pekerjaan sesuai dengan yang telah kita perjuangkan dalam proses tersebut. Namun semua pasti bermanfaat dan harus kita manfaatkan secara bijaksana untuk mendidik calon generasi penerus bangsa.

Konklusi
Merajut masa depan harus dimulai saat ini. Perjuangan untuk menjadi mahasiswa sejati-yang sungguh-sungguh dalam menggapai visi-misi harus sejalan dengan kebiasaan-kebiasaan baik yang kita bina sejak dini. Menjadi mahasiswa harus progressive dalam meraih mimpi. Namun hal itu tidak cukup dinilai dengan indikator keberhasilan atau kesuksesan yang kita capai namun pada tingkat kebijaksanaan yang dapat kita praktikkan dalam kehidupan.

Masa depan adalah misteri. Apapun pilihan masa depan kita, keyakinan akan pilihan-pilihan yang kita ambil pasti mempunyai pertimbangan alasan-alasan dan dapat kita pertanggungjawabkan nantinya, untuk diri sendiri, orang-orang yang kita cintai, lingkungan kita, dan di hadapan sang Khaliq, Mahadaya segala-galanya.

Menjelang 1 November 2009

November 2, 2009 Posted by | academic stuff, daily-life, family, futuristic | Leave a Comment

Indahnya Berbagi

Menulis lagi.
Kukumpulkan semangat untuk menguraikan kata-kata yang bergumul dalam otakku. Paling tidak motivasiku tulus untuk berbagi, melontarkan opini, atau mungkin sekedar curhat masalah pribadi. Apapun itu kuniatkan ‘lillahi ta’ala’. Pada malam terang benderang tatkala sinar bulan sabit serasa teduh menerangi jiwaku, ada perasaan bahagia yang mewarnai beberapa hari terakhirku. Rasa yang secara emosional dan rasional sangat beralasan. Dan kembali, kucoba untuk menetralisir semua dengan focus pada prioritas dan kewajiban.

Beralasan di atas paling tidak bisa kurangkumkan dalam beberapa frasa. Rasa syukur. Ketentraman jiwa. Ridho orang tua. Keberkahan Allah. Ketulusan kasih sayang. Semua frasa di atas sangat mendamaikan diri dan bisa mengobati hati ketika kegelisahan itu muncul.

Mencari dan mengagumi.

Dua aktivitas yang membutuhkan energi. Energi itulah jua yang menggerakkanku untuk menulis lagi dalam blog ini. Hari ini, hari ketiga mid semester. Ujian yang lebih kumaknai sebagai evaluasi diri. Evaluasi dan refleksi diri sebagai mahasiswa HI. Yah, sampai semester lima ini, aku masih mencari apa esensi dari perkuliahan selama ini. (Telat yaa??)

Aktivitas akademis di bangku kuliah yang kadang kurasa sangat ‘absurd’. Absurditas bagiku adalah purely karena tidak optimalnya status mahasiswa yang kusandang. Mahasiswa yang secara etimologis melebihi siswa, seharusnya tuntutan untuk lebih menggiatkan aktivitas intelegensia itu semakin diasah. Namun kenyataanya tetap banyak rentetan alasan yang membuatku sering bergumam, “jika terus seperti ini aku tidak lebih baik dari siswa di bangku sma.”

Secara akademis, dengan jiwa besar aku mengakui bahwa progress intelegensiku kurasakan tidak lebih dari fase sebelumnya. Namun ada yang perlu disyukuri tatkala saat sekarang banyak kesempatan, pengalaman, dan tamparan yang semakin keras justru mengukuhkan semangatku untuk mengukir masa depan. Di bangku perkuliahan inilah awalnya aku mulai mencari penghidupanku sendiri, mengisi kas-kas pribadiku sendiri, dari pengalaman mengajar les, sampai pengalaman kerja part time yang telah mengenalkanku pada aspek-aspek yang belum kupahami sebelumnya. Dipaksa masuk dalam suatu sistem rigid struktural yang kadang menyenangkan dan di lain waktu menguras tenaga dan pikiran.

Dari kegagalan ke kegagalan, kugenggam erat sebuah harapan. Keinginan untuk mendapatkan beasiswa, akhirnya bisa teralisir pada semester ini. jika sebelumnya selalu terganjal status kelayakan dan birokratis praktis yang tidak efektif. Mungkin memang sekarang inilah waktunya. Dan aku memamg layak.

Tetap satu yang kuyakini, ada yang mengatur aliran rezeki kita, asalkan kita tidak hanya berpangku tangan. Dan janji sang Sutradara Kehidupan bahwa akan dibukakan jalan keluar dan rezeki dari pintu yang tidak disangka-sangkakan, bagi mereka yang mengimaninya, memang benar. Oleh karena itulah aku megimani itu.

Tentang kekaguman dan kasih sayang
Setiap orang pasti menyukai keindahan. Apalagi keindahan yang terbalut dengan kesehajaan yang memikat perasaan. Magnetisme keindahan memang sangat subjektif. Dan dari sifat dasar keindahan yang sangat menyenangkan inilah akan muncul aura positif jika tersalurkan dengan menggunakan energy positif melalui cara yang arif. Lewat proses itulah keindahan akan membawa efek yang menenangkan dan meneduhkan. Mengagumi keindahan adalah sebuah apresiasi sejati dalam menikmati masterpiece kehidupan.

Mengasihi dan menyayangi memiliki makna yang tinggi dalam hubungan intrapersonal umat manusia. Tak ada alasan dan syarat untuk membagi rasa kasih dan sayang. Namun sayang sekali, kadang kasih dan sayang bisa duduk sejajar dengan kepentingan. Kepentingan apa pun itu yang menafikkan hakikat ketulusan. Tulus memang sangat pelik untuk didefinisikan, karena menyangkut ‘feel’ atau ‘rasa’ yang sangat sulit untuk diraba. Kadang juga sangat manipulative dan terlihat ilusif karena daya jamah manusia yang terbatas pada tataran empiris.

Berbagi adalah mekanisme penyaluran kasih sayang yang sederhana, namun sangat berharga. Maka dari itulah, aku sangat menghargai dan mengagumi pada mereka yang tulus berbagi. Terutama berbagi kebaikan yang mempunyai efek membaikkan. Ada kalanya kita memiliki ruang pribadi yang kita batasi agar orang lain berhenti dan tidak bisa melampaui. Namun ada kalanya kita patut berbagi.

Sangat indah, jika kita mempunyai hal yang dapat kita bagi dengan orang lain. Berbagi memberikan sensasi yang berlipat ganda dibanding dengan efek ketika kita menikmatinya sendirian. Hal-hal tertentu inilah yang patut kita renungkan dan resapi. Manakah yang layak dibagi, manakah yang harus kita simpan sendiri, di ruang pribadi. Ataukah kapan kita harus berbagi dan kapan kita harus meresapinya sendiri.

Kamar Kos4 Swa7A,
Rabu, 281009, 22;57

October 29, 2009 Posted by | academic stuff, daily-life, self-contemplation, social life | Leave a Comment

bergelut dengan malam..

terjadi lagi.hampir setiap hari dalam minggu ini.siklus harian yang terbalik.tapi aku mulai menikmati itu.belum kupertanyakan pula bagaimana efeknya bagi kesehatan.namun mencoba kuresapi kembali.mungkin inilah saat yang tepat menarik benang hikmah yang selalu ada di setiap peristiwa.mungkin juga ini bisa menjadi strategi jitu jika dilakukan secara kontinu dan bermutu.

malam memberikan waktu luang untuk berfikir.menyisakan tempat yang lapang untuk bercakap dengan kesendirian.kadang butuh waktu memperhatikan sekitar ketika kesenyapan menjadi sangat bermakna.suara-suara yang sering terabaikan menjadi melodi indah yang menemani.ternyata, banyak makhluk di luar sana yang memaknai kehidupannya lewat malam.

minggu yang mengenalkanku dengan angin malam.bergelut dengan malam.bergelut dengan tekanan. aku memaknainya. aku punya teman baru sekarang. seolah aku menjadi raja dan pemenang. ketika malam bisa ditaklukan dan bertahan sampai pagi dengan sebuah hasil yang membanggakan.senyuman dan kepuasan.kemenangan diri.

namun tetap saja da konsekuensi.siklus yang terbalik memberikan sebuah konsekuensi.karena pada dasarnya manusia mempunyai batas ketahanan sendiri2.bergelut dengan malam memberikan sebuah kesadaran akan batas kekuatan diri.

masih bergelut dengan malam.aku mencoba menikmati sebuah proses..kadang kurang diresapi karena hasil yang menggiurkan selalu menjadi godaan.proses dan kontinuitas memberikan kekuatan yang berbeda pada hasil.kadang instan juga dibutuhkan.namun, instan harus bertarung dengan ketahanan..

bergelut dengan malamku ini adalah instan.karena tekanan.tapi aku belajar tentang ketahanan. juga sebuah proses yang ternyata akan melahirkan sebuah ketenangan. instan bergelut dengan malam, aku tak tenang.karena harga mati konsekuensi tidak bisa ditawar lagi.

diri sendiri dan waktu yang bergelut malam ini. dan diriku sendiri telah tertawan oleh waktu. bergelut dengan malam hingga dini hari. tiga;tiga sembilan.aku masih bertahan dalam tawanan.

June 16, 2009 Posted by | academic stuff, daily-life, dan lain lan | Leave a Comment

   

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.