Egypt dalam Benakku
Tapi ada suatu kebutuhan yang aku lupakan. Bahasa Arab. Oh, bahasa ibadahku. Bahasa doa-doaku. Kadang miris sendiri. Bahasa yang berulang-ulang kulafalkan, sejak kecil kupelajari, namun tidak bisa yang melekat dalam otak dan hati. Sebenarnya penulisan paragraf di atas terilhami oleh suatu kekaguman dan ke-jealous-anku pada kakak angkatku yang telah lebih dulu menginjakkan kaki di bumi seberang sana.
Kemarin aku chat dengan saudara angkatkudi Amerika. Dia berkata sekarang kakaknya di Syiria mendapat beasiswa studi dan riset. Senangnya hati ini mendengarnya. Dia memang jenius dan sangat bright. Kakak angkatku yang sangat konsisten terhadap prinsip dan cita-citanya. Dia sudah meretas jalan menggapai apa yang diinginkanya dahulu. Yang lebih mencengangkan sekarang dia sudah sangat ahli berbahasa Arab. Berlipat-lipat kali pula kekagumanku.
FLASH BACK:
Tahun 2005 pertama kali aku mengenalnya. (Ohh ya Allah sudah lima tahun berlalu. Tidak kusangka waktu sungguh berlari kencang). Dia pribadi yang baik dan menyenangkan. Sangat kusayangkan tak cukup banyak waktuku untuk lebih mengenalnya dan mengalami kejadian bersamanya. Tapi yang paling aku ingat kala itu. Dia sangat benci George W. Bush, seperti halnya anggota keluarga angkatku yang lain. Yang lebih membuatku terkesima dia sangat concern dengan tanah Palestina. Bahkan yang kutahu dia tetap memperjuangkan keadilan bangsa Palestina melalui beberapa aktivitasnya di kampus. Dia juga pernah minta tolong diajarin bahasa Arab dan cara menulisnya. Tak akan pernah kulupa bagaimana dia bersorak ketika pertama kali berhasil menuliskan namanya sendiri dengan huruf Arab. Itu beberapa bulan setelah dia mulai kuliah di Universitas Coklat (terjemahkan ke English) di Pulau Rhode, Amerika.
Tahun 2006. Saat itu mungkin usianya masih 18 tahun. Dia bersikeras minta diizinkan berkelana ke Maroko. Bersama kekasihnya kala itu. Mereka berdua berangkat ke sana. Pulang dengan segudang cerita dan membawa buah tangan piring keramik Maroko untuk ibunya, ibu angkatku kala itu.
Tahun 2009. Aku iseng-iseng membuka buku-mukanya. Dia tidak aktif dengan account-nya. Tapi dia memajang beberapa album tentang beberapa negera di Timur Tengah. Dan dia pun sekarang di Damaskus, Syiria. Dan dia pun disana dengan ketajaman pikirnya, dengan kebaikannya, dengan Bahasa Arab-nya yang lancar. Dan dengan senyumnya yang sangat manis. Semanis Aston Kutcher, kata ibunya yang selalu membanggakannya. Dan, iya, dia memang manis.
Aku semakin ingin merasakan atmosfer di sana. Dalam benakku Mesir menjadi negara yang ingin selalu kutuju. Dalam benakku, aku ingin mempunyai persistensi dan konsistensi dalam meraih mimpi-mimpiku, keinginanku, dan apa yang benar ingin kuperjuangkan. Aku belajar banyak tentang itu dari kakak angkatku. Terimakasih my bro! Tidak percuma mengenalmu. Aku bangga (pernah) menjadi adik (angkat)-mu.
kebohongan dan kejujuran
Beberapa waktu lalu saya merasa bahagia sekali bisa ‘ber-bohong’. Rasanya puas dan bangga, terutama karena satu alasan yang simple; saya berhasil membohongi orang lain. Dan merupakan kebanggan dapat memenangkan lakon yang menegangkan dalam adu saling membohongi. Tidak hanya berhenti di situ. Ternyata kebohongan bisa diprediksi dan dipelajari. Dalam lakon saling membohongi itu saya belajar banyak hal. Yaah, cukuplaaah. Saya tidak perlu memerpanjang kebohongan saya dalam blog ini karena terlalu lama membohongi pembaca tentang kebohongan tersebut. Yap, ini adalah sebuah permainan. Permainan yang sangat silly, maybe, tapi juga sangat mengasah kejelian kita dalam memrediksi, mengamati, dan mengolah strategi. Memrediksi, kapan lawan berbohong atau jujur. Mengamati, gesture dan mimik wajah lawan. Mengolah strategi, kapan saat yang tepat untuk trust our friends atau tidak mempercayainya secara telak. Semua proses itu membuat kita semakin jeli. Ini hanya sebuah game yang sederhana, tapi bermakna. Saya memaknai itu sebagai simulasi dalam kehidupan yang kadang penuh kebohongan dan manipulasi. Semua disimulasikan di sini. Semakin kita mahir, semakin kita jeli. Jeli berarti peka terhadap keadaan dan bisa memutuskan dengan tepat. Bahkan, satu hal yang juga tak kalah penting, berhasil membohongi juga memerlukan nyali yang kuat, keberanian yang mantap untuk take a risk, mengambil resiko terhadap apa yang masih belum tersingkap. Dan, pada akhirnya kita semua pun akan ketagihan untuk ‘ber-bohong’. Dan ‘ber-bohong’ memang sangat menyenangkan.
Setelah nyaman dengan kebohongan-kebohongan, yang semakin menyenangkan, saya dipaksa untuk menjawab dengan penuh kejujuran. Kejujuran sangat kontras dan bertolak belakang dengan kebohongan. Ternyata, kejujuran lebih berwarna. Kejujuran bak lampu, yang semakin memperjelas dan menerangi kapasitas ‘pandang’ kita dalam memgenali suatu objek. Ada kode etik dalam melakukan kejujuran. Sesuai dengan namanya, kode etik ini menyaratkan setiap pelaku untuk berkata jujur. Entah itu dalam mulut, dalam hati, atau kedua-duanya.
Saya berusaha menikmati proses dan jalannya ‘kejujuran’ waktu itu. Namun, jujur, saya merasa ada sekelumit kepahitan yang berserak dalam tawa kecerian dan senyum kegetiran yang tertahan. Ini adalah tentang pengakuan dan kejujuran akan masa lalu. Masa lalu. Saya mungkin secara sepihak bisa menjustifikasi diri saya sendiri tentang tindakan benar atau salah. Lubuk kejujuran saya saat ini mengatakan bahwa ini memang saya secara utuh. Saya yang alami. Saya yang sejujurnya, tanpa dibuat-buat dan tanpa bertopeng. Yah, saya dari dahulu sampai sekarang tetap seperti ini. Yang berbeda mungkin pemahaman saya terhadap suatu hal. Tidak ada tendensi yang dibuat-dibuat. Tidak ada niatan untuk mengelabui. Karena saya memang menjadi diri saya sendiri. Saya jujur menjawab dan saya jujur mengakui itu adalah noktah dan bagian dari diri saya yang harus kalian kenali. Maka kenalilah saja dan kubur ekspektasi dalam tataran yang belum memahami.
Agak melenceng dari topik yang saya tulis. Saya jadi berpikir tentang masa lalu, kesalahan, dan pengalaman. Hidup merupakan pembelajaran. Dan pengalaman merupakan guru terbaik. Semua orang mungkin tahu dengan peribahasa itu. Lantas, dimanakah posisi kesalahan? Dari masa lalu dan pengalaman kita bisa ‘napak tilas’ di masa kini, dimana kesalahan itu berada. Jika kesalahan terletak pada saya, maka, dengan jujur dan berbesar hati saya dalam proses untuk memperbaiki diri, menjadi yang lebih baik, lebih, lebih, dan akhirnya, baik. Kesalahan orang lain pun bukan sepenuhnya milik orang lain. Karena kita menjadi bagian dalam ‘diagram Venn’ yang saling berasosiasi satu sama lain.
Pengalaman akan kesalahan masa lalu menjadi pelajaran berharga bagi masa depan yang lebih baik. Kebohongan dan kejujuran mempunyai perbedaan yang sangat tipis dalam praktiknya. Karena fungsi lidah yang tak bertulang dan hati yang tak terkendali. Namun yang paling membedakan adalah efek sesudahnya. Kejujuran menjadi kekuatan, nama baik, dan kebesaran seseorang. Ketenangan dan kelegaan yang meyertainya merupakan pembeda paling nyata. Sementara kebohongan hanya akan membuahkan kebohongan-kebohongan lain yang menyesakkan, menyengsaran, dan tidak memberkahi. Pun kata adik, “Orang yang terbiasa bohong merupakan golongan orang-orang yang sangat sulit untuk mendapat ilmu (sering lupa, juga)” Saya pun awas dengan itu.
– Selimut Kejujuran Malam 22;59 pm- Late January 2010.

